Andaryoko menuturkan, naskah proklamasi tersebut ditulis oleh Bung Karno sekitar pukul 04.00 WIB, 17 Agustus 1945. Setelah selesai, Bung Karno kemudian memberikan naskah itu kepada para pemuda yang berkumpul di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56. Naskah itu selanjutnya diketik oleh Sayuti Melik.
"Usai mengetik, Melik meremas-remas naskah (teks proklamasi yang ditulis Bung Karno) itu. Dia pikir kertas itu tidak diperlukan lagi, karena sudah ada naskah ketikan. Naskah itu dibuang ke tempat sampah," kata Andaryoko kepada detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya, Selasa (12/8/2008).
Andaryoko menjelaskan, usai mandi, Bung Karno melihat ulang naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik. Lalu dia bertanya soal naskah aslinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum bercerita soal naskah proklamasi, Andaryoko mengisahkan peristiwa 'penculikan' tokoh tua oleh pemuda. Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh lain dibawa ke Rengasdengklok.
Menurutnya, peristiwa itu bukan penculikan. "Saya tidak ngomong seperti itu. Peristiwa itu hanya negosiasi antara tokoh tua dan muda," demikian Andaryoko.
(try/djo)










































