Baskara: Andaryoko Berbeda dengan 'Supriyadi' Lainnya

Baskara: Andaryoko Berbeda dengan 'Supriyadi' Lainnya

- detikNews
Selasa, 12 Agu 2008 12:16 WIB
Baskara: Andaryoko Berbeda dengan Supriyadi Lainnya
Yogyakarta - Sebagai penulis buku sejarah, Baskara T Wardaya mengaku sudah beberapa kali bertemu orang yang mengaku sebagai Supriayadi saat melakukan riset. Namun sosok Andaryoko Wisnuprabu, berbeda dengan para 'Supriyadi' lainnya.

"Biasanya tokoh yang pernah muncul dulu dengan nuansa supranatural dan penuh kesaktian, namun Andaryoko Wisnuprabu tidak," kata Baskara, sejarawan sekaligus Kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, kepada detikcom, Selasa (12/8/2008).

Tidak hanya itu, Andaryoko juga menarasikan sejarah Indonesua pasca-45 yang berbeda. Andaryoko jauh lebih mementingkan sejarah daripada hal lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dia tidak ingin ada semacam kultus individu. Itu yang dia hindari. Dia tak ingin dipuji, tapi ingin ditulis. Andaryoko bilang yang penting bukan dirinya," kata Baskara menuturkan ucapan Andaryoko saat bertemu di Semarang.

Baskara menambahkan, banyak sejarah tentang peristiwa pemberontakan PETA di Blitar yang bisa dikaji ulang. Misalny, saat para pemberontak ditangkap tentara militer Jepang mengpa Jepang tidak langsung mengumumkannya. Termasuk juga mengapa pemberontakan itu terjadi di Blitar.

"Mengapa peristiwa itu muncul di Blitar bukan di Batavia (Jakarta) atau daerah lain. Ini yang jadi pertanyaan," kata doktor lulusan Universitas Marquette, Milwaukee, Wisconsin, AS itu.

Demikian pula soal penunjukan Supriyadi menjadi menteri keamanan rakyat atau panglima TKR oleh Bung Karno selaku Presiden RI. Hal itu tentu dilakukan Bung Karno dengan alasan kuat mengingat jabatan tersebut sangat strategis.

"Jangan-jangan dia (Supriyadi) memang masih ada karena masih disebut oleh Bung Karno," ungkap Baskara.

Selain itu, sambung Baskara, Bung Karno semasa menjadi presiden juga tidak pernah menangkat Supriyadi menjadi pahlawan nasional. Sebab seseorang diangkat menjadi pahlawan nasional setelah yang bersangkutan meninggal dunia.

"Saya kira semua masih bisa dilacak sejarahnya. Ini akan memperkaya khasanah sejarah Indonesia terutama pasca-45. Kita perlu mendengarkan yang lain," pungkas dia. (bgs/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads