"Biasanya tokoh yang pernah muncul dulu dengan nuansa supranatural dan penuh kesaktian, namun Andaryoko Wisnuprabu tidak," kata Baskara, sejarawan sekaligus Kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, kepada detikcom, Selasa (12/8/2008).
Tidak hanya itu, Andaryoko juga menarasikan sejarah Indonesua pasca-45 yang berbeda. Andaryoko jauh lebih mementingkan sejarah daripada hal lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baskara menambahkan, banyak sejarah tentang peristiwa pemberontakan PETA di Blitar yang bisa dikaji ulang. Misalny, saat para pemberontak ditangkap tentara militer Jepang mengpa Jepang tidak langsung mengumumkannya. Termasuk juga mengapa pemberontakan itu terjadi di Blitar.
"Mengapa peristiwa itu muncul di Blitar bukan di Batavia (Jakarta) atau daerah lain. Ini yang jadi pertanyaan," kata doktor lulusan Universitas Marquette, Milwaukee, Wisconsin, AS itu.
Demikian pula soal penunjukan Supriyadi menjadi menteri keamanan rakyat atau panglima TKR oleh Bung Karno selaku Presiden RI. Hal itu tentu dilakukan Bung Karno dengan alasan kuat mengingat jabatan tersebut sangat strategis.
"Jangan-jangan dia (Supriyadi) memang masih ada karena masih disebut oleh Bung Karno," ungkap Baskara.
Selain itu, sambung Baskara, Bung Karno semasa menjadi presiden juga tidak pernah menangkat Supriyadi menjadi pahlawan nasional. Sebab seseorang diangkat menjadi pahlawan nasional setelah yang bersangkutan meninggal dunia.
"Saya kira semua masih bisa dilacak sejarahnya. Ini akan memperkaya khasanah sejarah Indonesia terutama pasca-45. Kita perlu mendengarkan yang lain," pungkas dia. (bgs/djo)











































