Baskara: Andaryoko Berhak Menarasikan Sejarah Versinya Sendiri

Misteri Supriyadi

Baskara: Andaryoko Berhak Menarasikan Sejarah Versinya Sendiri

- detikNews
Selasa, 12 Agu 2008 11:42 WIB
Baskara: Andaryoko Berhak Menarasikan Sejarah Versinya Sendiri
Yogyakarta - Masih hidup atau tidaknya Supriyadi, tokoh pejuang pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA), tidak perlu diperdebatkan. Sebab sejarah bukan tentang klaim kebenaran.  Semua orang berhak menarasikan sejarah menurut versinya sendiri.

Hal tersebut diungkapkan sejarawan senior, Baskara T Wardaya saat berbincang-bincang dengan detikcom mengenai kemunculan pria bernama Andaryoko Wisnuprabu yang mengaku sebagai Supriyadi, Selasa (12/8/2008).

"Bagi saya bukan masalah Supriyadi itu masih hidup atau tidak. Namun seharusnya kita bicarakan sejarah bangsa Indonesia dengan melihat masa lalu untuk melihat arah Indonesia itu mau dibawa kemana. Saya kira ini bagian dari proses pembelajaran sejarah," kata Baskara yang juga penulis buku 'Mencari Supriyadi, Kesaksian Pengawal Utama Presiden'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baskara menilai, sebagian sejarah Indonesia perlu ditinjau ulang karena penuh muatan penguasa dan kekuasaan. Sebab kondisi tersebut menyebabkan tidak ada ruang bagi pihak lain. Padahal saat ini banyak narasi sejarah lain yang bisa diungkapkan dan diperhitungkan.

Menurut Baskara, bangsa Indonesia perlu mendengar kembali suara-suara pelaku sejarah. Misalnya mengapa mereka tidak mau bicara, sengaja bungkam atau dibungkam. Hal ini perlu dilakukan karena sejarah tidak bisa dilihat dari satu sisi saja.

"Kita beri kesempatan karena orang seperti Andaryoko Wisnuprabu itu juga punya hak dan kewajiban untuk menarasikan sejarah. Sejarah jangan hanya dilihat dari satu sisi saja," ungkap Kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta itu.

Baskara menambahkan, sebuah sumber sejarah itu tidak boleh disalahkan atau dipangkas. Sebaliknya, dia harus diberikan kesempatan berbicara sehingga bisa memperkaya khasanah sejarah Indonesia. Sebab sejarah adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami sebagai kebenaran tunggal. Termasuk juga soal kontroversi Supriyadi. Sejarah tentang tokoh pemberontakan Peta itu bisa saja muncul dengan banyak versi.

"Sejarah itu bukan klaim kebenaran, tapi itu masalah berpikir," tukas Baskara. (bgs/djo)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads