Hal tersebut diungkapkan sejarawan senior, Baskara T Wardaya saat berbincang-bincang dengan detikcom mengenai kemunculan pria bernama Andaryoko Wisnuprabu yang mengaku sebagai Supriyadi, Selasa (12/8/2008).
"Bagi saya bukan masalah Supriyadi itu masih hidup atau tidak. Namun seharusnya kita bicarakan sejarah bangsa Indonesia dengan melihat masa lalu untuk melihat arah Indonesia itu mau dibawa kemana. Saya kira ini bagian dari proses pembelajaran sejarah," kata Baskara yang juga penulis buku 'Mencari Supriyadi, Kesaksian Pengawal Utama Presiden'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Baskara, bangsa Indonesia perlu mendengar kembali suara-suara pelaku sejarah. Misalnya mengapa mereka tidak mau bicara, sengaja bungkam atau dibungkam. Hal ini perlu dilakukan karena sejarah tidak bisa dilihat dari satu sisi saja.
"Kita beri kesempatan karena orang seperti Andaryoko Wisnuprabu itu juga punya hak dan kewajiban untuk menarasikan sejarah. Sejarah jangan hanya dilihat dari satu sisi saja," ungkap Kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta itu.
Baskara menambahkan, sebuah sumber sejarah itu tidak boleh disalahkan atau dipangkas. Sebaliknya, dia harus diberikan kesempatan berbicara sehingga bisa memperkaya khasanah sejarah Indonesia. Sebab sejarah adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami sebagai kebenaran tunggal. Termasuk juga soal kontroversi Supriyadi. Sejarah tentang tokoh pemberontakan Peta itu bisa saja muncul dengan banyak versi.
"Sejarah itu bukan klaim kebenaran, tapi itu masalah berpikir," tukas Baskara. (bgs/djo)











































