DetikNews
Selasa 12 Agustus 2008, 09:05 WIB

Misteri Supriyadi PETA Versi Ronomejo Hingga Nakajima

- detikNews
Misteri Supriyadi  PETA Versi  Ronomejo Hingga Nakajima
Jakarta - Cerita soal pahlawan PETA, Supriyadi dari Blitar memang berkembang sejak dulu dalam berbagai versi. Wacana yang juga memicu kontroversi justru dikembangkan oleh Departemen Sosial. Tahun 1978, Depsos mengeluarkan serial buku Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan. Pada bagian seri tentang Pemberontakan PETA Blitar dikutip beberapa kesaksian tentang masih hidupnya Supriyadi, setidaknya sampai setelah pecahnya pemberontakan PETA Blitar.

Harjosemiarso, Kepala Desa Sumberagung pada jaman penjajahan Jepang, beberapa saat setelah pecahnya pemberontakan Blitar Februar1 1945 mengaku pernah menyembunyikan Supriyadi di rumahnya selama beberapa hari.

Ronomejo, Kamituwo Desa Ngliman, Nganjuk mengaku pernah ikut menyembunyikan Supriyadi di gua di sekitar Air Terjun Sedudo. Ia bahkan pernah mengantar Darmadi, ayahanda Supriyadi datang ke tempat persembunyian.

Seorang Jepang mantan pelatih Supriyadi di Seinendojo, Tangerang, Nakajima pada Maret 1945 mengaku pernah didatangi Supriyadi saat bertugas di Salatiga. Ia sempat menyembunyikan Supriyadi beberapa hari sampai akhirnya Supriyadi pamit akan menuju Bayah, Banten Selatan (Tempat sembunyi yang sama dengan Tan Malaka).

H Mukandar, tokoh masyarakat di Bayah, Banten mengaku pada bulan Juli 1945, dirinya pernah merawat seseorang yang terkena disentri. Pria itu mengaku bernama Supriyadi. Sayang jiwa si pria malang tak terselamatkan. Ia pun dikuburkan di Bayah. Ketika ditunjukkan foto para kadet Seinandojo PETA di Tangerang, dengan tepat Mukandar menunjuk pada foto Supriyadi.

Tak cuma Depsos, Dinas Sejarah TNI AD sendiri tak menutup pintu kemungkinan Supriyadi tak ikut wafat dalam pemberontakan Blitar. Majalah Vidya Yudha No 12\/III\/1971 memuat tulisan Mayor Soebardjo yang mengatakan bahwa ia mendengar dari Letnan Sasmita kalau Supriyadi tewas di Gunung Wilis menjelang datangnya kemerdekaan. Satu regu tentara Jepang menembaknya ketika ia tengah mereguk air minum.

Masih banyak lagi wacana-wacana soal sang pahlawan PETA Supriyadi. Saling silang kabar yang ada dimungkinkan karena memang hingga kini jasad Supriyadi tak pernah diketemukan. Pemerintah sendiri ‘terlanjur’  mensosialisasikan namanya sebagai sosok pahlawan. Tindakan Soekarno-Hatta yang mencantumkannya sebagai panglima tentara adalah bukti dari pengakuan tersebut.

Namun, tak semua orang menganggap Supriyadi sebagai pahlawan. Beberapa mantan anak buahnya di PETA justru melihatnya sebagai sosok pengecut. Ketika para perwira PETA yang lain (Muradi, Supardjono, Suryo Ismangil, Halir Mangkudijaya, Soedarmo, Soenanto) harus bertanggungjawab dengan merelakan kepalanya untuk dipenggal di Ancol demi pasang depan menyelamatkan nyawa anak buahnya, Supriyadi malah lari.

Mungkin ini membuat orang terlalu skeptis, namun apa pun dalih yang diungkapkan Supriyadi (Andaryoko?) nanti - jika benar ia adalah Supriyadi -  takkan bisa menghapus ‘kesalahannya’ membiarkan 63 tahun lamanya publik terperdaya epos kepahlawanannya atau mungkin secara pribadi lebih penting bagi Supriyadi sendiri, perasaan terluka para mantan anak buah yang merasa ditinggalkannya begitu saja.


(anw/bdi)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed