"Anak-anak yang kekurangan gizi atau menderita gizi buruk pada periode dua sampai lima tahun, ternyata hasil CT scan otak kepalanya bervolume lebih kecil dibanding orang yang normal, yang umurnya sama," kata anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia Tb. Rachmat Sentika saat ditemui di Hotel Four Seasons Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin 11 Agustus kemarin.
Menurut Sentika, perkembangan anak di fase gold age sangat berpengaruh terhadap perkembangan mereka selanjutnya. "Artinya otak sangat ditentukan oleh perkembangan lima tahun, kalau sesudah lima tahun sudah tidak ada gunanya, tidak bisa padat otaknya," tambahnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa dikemukakan ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Ali Khomsan MS. Ditemui di tempat yang sama, ia menjelaskan bahwa usia batita (1-3 tahun) adalah periode emas yang singkat dan penting bagi masa depan anak.
Apa yang diberikan orangtua pada masa itu merupakan investasi seumur hidup. "Perlu perhatian sekali asupan nutrisi dalam tumbuh kembang batita di masa golden age. Hal ini karena kurang gizi bersifat irreversible, atau tidak dapat dikembalikan" ujarnya.
Pada data Departemen Gizi Masyarakat IPB tahun 2007, tercatat 4 juta dari 20 juta balita mengalami kekurangan gizi dan 700 ribu lainnya menderika gizi buruk.
"Dengan kondisi seperti ini isu the lost generation bukan sekedar isapan jempol! Mungkin tidak sekarang tapi kita lihat 20 tahun lagi" ujarnya. (vna/anw)











































