"Dalam buku tersebut dia mengaku bahwa dia datang ke Jakarta pada tahun 1945 setelah melarikan diri dari Blitar. Kemudian ikut sidang BPUPKI sebagai orang yang membawakan tas Bung Karno. Apa waktu itu Soekarno bawa tas?" ujar Asvi dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (12/8/2008).
Kejanggalan kedua, menurut Asvi, pria yang mengaku berganti nama menjadi Andaryoko Wisnuprabu tersebut hadir dalam upacara kenaikan bendera Merah Putih pada 17 Agustus 1945. Bahkan dia mengaku sebagai pria yang mengenakan celana pendek seperti yang biasa kita lihat dalam foto-foto pelajaran sejarah di sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam buku tersebut Andaryoko alias Supriyadi juga mengatakan, UUD 1945 disusun dan dibicarakan di Gedung Joeang, Jakarta. "Itu tidak tepat, yang benar di Gedung Pancasila Pejambon yang saat ini menjadi Kantor Deplu," kilah Asvi.
Yang menarik lagi, Andaryoko mengaku pernah pamit kepada Bung Karno untuk pergi ke Semarang dan tidak bergabung dengan pemerintahan Bung Karno. Dia meramalkan pada tahun 1965 akan terjadi peristiwa besar yang menyebabkan orang-orang dekat Bung Karno disingkirkan. "Ini tokoh yang bisa meramalkan masa depan juga," canda Asvi.
Asvi menambahkan, pada 11 Maret 1966 Andaryoko juga mengaku berada di Istana Bogor. "Karena dia pada tahun 50-an yang mengenalkan Hartini (istri Bung Karno setelah Fatmawati). Dia bisa ke Istana Bogor. Dia melihat penyerahan Supersemar, yang kata dia, nggak ada isinya," ujarnya.
Dalam buku yang ditulis oleh sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tersebut, Asvi juga mengaku menulis satu bab tentang hilang dan timbulnya Supriyadi.
Jika Andaryoko terbukti bohong apa bisa dikenakan sanksi? "Nggak ada sanksi apa-apa. Biasanya pahlawan kan yang meninggal. Tapi kalau hidup berarti bukan pahlawan," pungkasnya. (anw/nrl)











































