"Ada beberapa hal yang bertentangan dengan fakta historis. Kalau satu dua, nggak apa-apa, tapi kalau banyak, saya nggak yakin. Mungkin dia seorang PETA tapi bukan Supriyadi," ujar sejarawan Asvi Warman Adam dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (12/8/2008).
Menurut Asvi, kasus orang yang mengaku sebagai Supriyadi bukan hal baru. Menurutnya, pada saat pemerintah Indonesia dipimpin oleh Soeharto dan Try Soetrisno, ada juga orang yang mengaku sebagai Supriyadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, menurut Asvi, Supriyadi sangat mahir Bahasa Belanda dan Jepang. Supriyadi tercatat pernah belajar Bahasa Belanda di Mosvia, lembaga studi Bahasa Belanda pada saat itu.
"Dalam wawancaranya di Semarang, ada ungkapan-ungkapan Jawa yang dia lontarkan. Tapi dia tidak pernah menyebut Bahasa Belanda atau Jepang. Fakta-fakta sejarah yang disampaikan beliau bagi saya juga sesuatu yang serba kebetulan," papar peneliti LIPI ini.
Asvi menambahkan, ada dua alasan kenapa banyak sekali orang yang mengaku sebagai Supriyadi.Yakni persoalan mencari ketenaran dan akibat krisis nasional yang terus menerus terjadi.
"Pertama, ini berkaitan dengan ketenaran orang. Orang bisa hilang dan datang kembali biasanya jadi ratu adil yang bisa menjadi penyelamat. Kedua, bangsa kita saat ini masih krisis. Kalau bangsa kita dalam keadaan normal, nggak ada ratu-ratu adil seperti yang dipercayai orang," pungkasnya. (anw/Ari)











































