"Selama ini hukuman mati itu ngawur. Setiap orang yang dihukum mati disembunyikan, kenapa harus di Nusakambangan dan tidak boleh seorang pun melihat. Kalau ingin efek jera, kita tembak di lapangan Monas saja," kata bakal Capres dari jalur independen Fadjroel Rachman di sela-sela diskusi di YLBHI, Jl Diponegor, Jakarta, Jumat (8/8/2008).
Mantan aktivis 89 ini menuturkan sejatinya Indonesia telah menandatangani Konvenan Internasional Sipil dan Politik tahun 2005, namun tetap saja melakukan tata pelaksanaan hukuman mati bagi terpidanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan jika Indonesia sudah tidak mengindahkan konvenan yang berisi pelarangan hukuman mati tersebut, sebaiknya Indonesia mencabutnya. "Kalau begitu persoalannya, seharusnya dicabut dong. Katakan Indonesia sudah tidak patuh lagi. Jadi aneh kalau dia (SBY) yang menandatangani, dia juga yang menghianatinya," tandasnya. (lrn/ndr)











































