"Sebenarnya menjadi golput itu nggak ada bedanya dengan memilih. Sama saja. Golput itu kan hak memilih untuk tidak memilih," kata Fadjroel usai diskusi bertajuk 'Presiden baru bicara Burma' di Kantor LBH Jakarta Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (8/8/2008)
Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara (Pedoman) ini menjelaskan, jika warga hendak golput atau ada ajakan golput, hal itu bukan masalah. Dia bersikukuh memilih adalah hak setiap warga negara.
"Aku menganjurkan kamu memilih dan aku menganjurkan kamu tidak memilih itu sama nilainya. Mereka yang menganjurkan golput, karena sistem demokrasi ini tidak betul-betul memperjuangkan demokrasi," jelasnya.
Fadjroel memang cukup konsisten sebagai golput sejak dia masih menjadi aktivis mahasiswa di ITB, pada era Soeharto. Pecah reformasi pada 1999, Fadjroel tetap golput karena dia menilai Habibie masih bau Orde Baru.
Pada tahun 2004, Fadjroel juga tetap golput. Alasannya, semua parpol dan caleg dinilainya tidak berpihak pada persoalan hak asasi manusia.
"Dan tidak ada yang mengusulkan Soeharto diadili," imbuhnya. (fiq/iy)











































