Khalifah Cabul Klaim Miliki Pengikut Ratusan Orang

Khalifah Cabul Klaim Miliki Pengikut Ratusan Orang

- detikNews
Jumat, 08 Agu 2008 14:45 WIB
 Khalifah Cabul Klaim Miliki Pengikut Ratusan Orang
Pekanbaru - Selain mengaku pandai mengobati berbagai penyakit, Wahidin (37) juga mengaku memiliki banyak pengikut. Khalifah cabul dari Pekanbaru ini mengklaim kelompok tarekatnya diikuti ratusan orang.

"Saya sadar bahwa ritual meminta pasien wanita bertelanjang, menyimpang dari ajaran agama dan aliran Tarekat Naksabandiah. Perbuatan yang saya lakukan murni atas kekh ilafan saya. Semua ritual itu tidak berkaitan dengan Tarekat Naksabandiah," terang Wahidin kepada detikcom di Mapolsekta Bukit Raya, Pekanbaru, Jumat (8/8/2008).

Wahidin menjelaskan, dirinya belajar Tarekat Naksabandiah di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar). Dia sendiri dilahirkan di Medan Sumaera Utara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

โ€œSetelah saya lama belajar di pusat Naksabandiah, saya mencoba mengembangkan tarekat ini di Pekanbaru. Dan sekarang pengikut jemaah tarekat sudah lebih dari 200 KK," kata Wahidin.

Di Pekanbaru tarekat ini berpusat di Masjid Asyaf Kubang Raya Pekanbaru yang berbatasan dengan Kabupaten Kampar. Di masjid itulah, Jamaah Naksabandiah selalu berkumpul untuk melakukan pengajian. Pengikut tarekat ini, setiap Senin dan Kamis malam usia salat Isa melakukan zikir bersama sampai menjelang salat subuh.

"Tarekat naksabandiah selalu mengajarkan pada pengikutnya untuk berzikir. Jadi tidak ada hubungan tarekat dengan kasus yang saya alami saat ini. Dan saya siap mempertanggungjawabkan semua kesalahan saya," kata Wahidin.

Dia juga menjelaskan, bahwa lima orang wanita yang sebagai saksi melapor ke polisi, merupakan orang-orang dekatnya. Selain sebagai jamaah tarekat juga sebagai pasien dalam pengobatan alternatif yang dilakukan Wahidin.

Namun tersangka membantah keras bila dirinya telah bersetubuh dengan kelima pasiennya itu. Dia mengaku pasiennya itu hanya disuruh telanjang saja.

"Saya tidak pernah melakukan layaknya hubungan suami istri kepada mereka itu. Kalau saya suruh telanjang itu benar. Tapi sama sekali tidak melakukan hubungan biologis. Lagi pula saya menyuruh telanjang setelah mendapat persetujuan para suami dan pasien itu sendiri," kata Wahidin.
(cha/djo)


Berita Terkait