"Mungkin bisa saja. Saya mengkhawatirkan, karena waktu di Sari Pan Pacific (ada) komputer hilang. Ada banyak data di situ dan bukan hanya data AdamAir saja," ujar Ketua KNKT Tatang Kurniadi ketika ditanya kemungkinan apakah data investigasi AdamAir KI 574 bisa bocor.
Tatang menyampaikan hal itu dalam jumpa pers di Gedung Dephub, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (4/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah yang palsu medianya atau substansinya?
"Di antara isinya, saya perhatikan ada yang sama. Punya saya di-crash. Di situ (rekaman yang beredar) suaranya lebih jelas. Yang asli panjangnya 32 menit," jawab Tatang.
Tatang sendiri mengaku belum mendengar secara utuh rekaman yang beredar.
"Saya mendengar sepintas. Yang ada Allahu Akbar-nya. Suara yang aslinya lebih blur. Kelihatannya ada satu kesengajaan, dimodifikasi, biar tidak terlalu persis. Saya belum tahu motivasinya apa? Tapi yang jelas, akibatnya merugikan," tutur dia.
Dalam jumpa pers itu, Tatang juga memperlihatkan dokumen asli investigasi, yaitu hasil download Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) dalam bentuk gulungan pita kaset, tanpa membuka isinya.
Sedangkan laporan hasil investigasi AdamAir KI 574, imbuh dia, diserahkan kepada beberapa pihak.
Sesuai dengan aturan International Civil Aviation Organization (ICAO), laporan akhir (final draft) itu diberikan pada state of manufacture (negara pabrikan pesawat dan black box) dalam hal ini Amerika Serikat (AS), merangkap state of design (negara merancang pesawat).
Sedangkan state of operator (negara tempat operator atau maskapai), state of registration (negara pesawat terdaftar), dan state of victim (negara para korban berasal) semuanya terdapat di Indonesia.
Di Indonesia, laporan akhir diserahkan kepada Menhub, KNKT dan investigator dalam hal ini Ketua Subkomite Udara KNKT Frans Wenas.
(nwk/fiq)











































