"Yang jelas lari dari itu (ke Medan). Saya aman dekat keluarga saya, dekat cucu," ujar Marliah kepada detikcom, Senin (4/8/2008).
Menurut anggota Komisi VIII ini, stres dengan kejadian pada Jumat 1 Agustus lalu. Rasa takut dan trauma masih membayanginya.
"Stres jugalah, gimana nggak. Saya enak ngobrol gini di rumah. Melihat itu saya takut, saya trauma, merinding bulu kuduk saya," jelas Marliah.
Marliah mengaku selama ini dia tidak punya musuh. "Kalau saya merasa tidak mempunyai musuh. Tidak ada yang saya hindarkan. Tapi sejak kejadian itu saya merasa punya musuh," kata politisi Golkar ini.
Marliah meyakini peluru tersebut sengaja ditembuskan, bukan peluru nyasar yang disampaikan beberapa pihak.
"Hati dan pengetahuan saya yang rendah saya nggak tahu itu peluru nyasar atau sengaja ditembakkan. Kalau saya lihat, jauh kemungkinannya nyasar. Karena bolong bekas tembakan (di kaca DPR), persis di belakang tempat duduk meja saya," jelas Marliah.
(nik/iy)











































