"Kalau hasil survei Juni sampai Juli, Mega dan SBY bersaing ketat, meski Mega masih tetap unggul. Yang menarik ini fenomena Prabowo yang menembus angka 3,81 persen. Ini meningkat drastis dari survei Februari-Maret, yang hanya 0,3 persen," terang peneliti senior Reform Institute Kholid Novianto dalam konferensi pers di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Senin (4/8/2008).
Menurut Kholid, ketatnya persaingan Mega-SBY tersebut karena sampai saat ini 2 orang itu merupakan tokoh paling dikenal masyarakat. Namun, seiring waktu, komposisi teratas bisa saja akan diduduki oleh Sultan Hamengku Bowono yang saat ini menempati posisi ke 3 dengan 7,12 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Direktur Reform Institue Yudi Latief menilai persaingan Mega dan SBY karena keduanya merepresentasikan kelompok yang siap bersaing dalam 2009. Sementara itu, meningkatnya Prabowo dari 0,3 persen ke 3,81 persen disebabkan memori masyarakat yang lekat dengan figur kuat Prabowo dan iklan Prabowo yang mengena hati masyarakat.
"Kalau SBY-Mega, itu memang menjadi pilihan yang favorit meski SBY turun dari survei Februari-Maret 24,8 %. Untuk Prabowo karena figur publik. Prabowo itu the raising star menjelang reformasi. Ditambah iklannya yang bagus," pungkas Yudi. (yid/asy)











































