Demikian disampaikan peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Jamaludin dihubungi detikcom, Senin (4/8/2008). "Itu bukan fenomena antariksa, tapi hanya fenomena atmosfir. Bisa berupa layang-layang atau juga objek lain yang memang tidak diketahui," jelas Thomas.
Menurut dia, fenomena atmosfir bisa buatan manusia dan juga alam. Buatan manusia seperti layang-layang atau pun balon udara yang menyala atau terkena sorotan lampu. Sementara fenomena atmosfir alam, bisa jadi unggas yang tengah bermigrasi di malam hari dan terkena sorotan lampu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada musim kemarau sekarang ini, lanjut Thomas, kemungkinan warga yang menerbangkan layang-layang elektronik di malam hari cukup besar. Terlebih saat ini menjelang perayaan HUT RI. "Jadi tolong telusuri dulu, apakah di daerah sana ada warga yang memang menerbangkan layang-layang," tandasnya.
Lebih lanjut, kata Thomas, jika cahaya yang dilihat pada Minggu dini hari itu hanya bisa dilihat di daerah tertentu, artinya ketinggian benda terbang tersebut rendah. "Yah paling puluhan meter dan itu pasti layang-layang," tegas dia.
"Namun jika benda tersebut bisa dilihat di kawasan yang luas, artinya terbangnya sangat tinggi, kalai seperti ini, itu objek yang belum diketahui saja," sambung dia.
Jika seperti itu, tambahnya, maka benda itu bisa jadi termasuk unidentified flying object (UFO). "Pengertian UFO itu kan benda terbang yang belum dikenal. Jangan asumsikan UFO itu yang bermuatan alien," katanya.
Selama ini, kata Thomas, terjadi pengertian salah kaprah mengenai UFO yang selalu diidentikkan dengan mahluk luar angkasa. Secara astronomi, jelas dia, makhluk luar angkasa atau alien tak terbukti.
"Data-data yang disampaikan selama ini mengenai alien tak bersikap ilmiah dan lemah untuk dijadikan bukti ilmiah. Sumber cahaya yang aneh apa pun bentuknya secara umum bisa dikatakan fenomena atmosfir, baik buatan manausia atau pun bukan," terang dia. (ern/asy)











































