Bagaimana Marliah memandang peristiwa tersebut? Apakah ia merasa memiliki musuh? Siapa yang mengincarnya?
Berikut petikan wawancara detikcom dengan Anggota Komisi VIII DPR Marliah Amin, Senin (4/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wah biasa, di Komisi VIII rutin. Biasa saja lah, nggak ada yang... Pokoknya di seputaran DPR itu. Ada Pansus, rapat Komisi dan Paripurna.
Pernah menerima ancaman nggak sebelumnya?
Kalau ancaman nggak ada, ya baru pertama kali.
Punya musuh apa nggak?
Hahahaha. Kalau saya merasa tidak mempunyai musuh. Tidak ada yang saya hindarkan. Tapi sejak kejadian itu saya merasa punya musuh.
Kemungkinan nyasar itu jauh. Orang saya berdiri di tempat itu pada hari Jumat, setelah saya ditelepon bahwa ruangan saya kena peluru, kena tembak. Sekitar pukul 16.30 saya datang dan melihat serta memandang kaca yang bolong.
Hati saya dan pengetahuan saya yang rendah saya nggak tahu itu peluru nyasar atau sengaja ditembakkan. Kalau saya lihat, jauh kemungkinannya nyasar. Karena bolong bekas tembakan (di jendela DPR), persis di belakang tempat duduk meja saya. Kalau saya sedang berada di kursi saya dalam keadaan duduk, peluru akan kena di atas kepala saya. Kalau saya berdiri itu pas kepala saya.
Melihat itu saya takut, saya trauma, merinding bulu kuduk saya. Sesudah kejadian itu, saya berfikir mungkin saya punya musuh.
Arah peluru dari mana? Apakah dari Hotel Mulia?
Itu jauh
Kalau dari lapangan tembak Senayan?
Belum tahu. Tapi jaraknya cuma 500 meter dengan DPR.
Kira-kira siapa yang melakukannya?
Nah ini yang saya pikirkan. Saya mencari-cari nggak tahu apakah lingkungan saya. Semua orang tahu anggota dewan lagi reses. Paling tidak ini shock teraphy. Saya mengharap ini diselidiki, biar jelas teknisnya.
Ada orang yang jengkel apa nggak pada anda?
Saya nggak tahu.
Ibu lagi bahas kasus/UU apa?
Pansus narkotik, pansus militer, tim pengawas rehabilitasi rekonstruksi Aceh (BRR), di luar komisi, saya di tim pengawasan pelaksanaan UU NO 11 tentang pemerintahan Aceh.
Kalau dari panitia kerja, Panja guru khusus yakni guru madrasah, guru honor, dan Panja wajib belajar di lingkungan Depag.
Ibu yang jadi sasaran utama atau DPR?
Saya belum bisa putuskan, kalau ini nyasar harus dicari tahu.
Mungkin ada yang sakit hati kepada DPR jadi ibu yang kena?
Nah itu Wallahu Alam. Itu nggak tahu
Setelah kejadian ini apa Ibu akan memperketat pengamanan?
Yang jelas lari dari itu (ke Medan). Saya aman dekat keluarga saya, dekat cucu, jadi nggak perlu body guard. Mudah-mudahan perasaan saya bisa sembuh. Mesti tawakkallah. Alhamdulillah terhindar.
Kalau memang saya di shock teraphy supaya tidak duduk lagi di DPR, saya nggak nyalonkan DPR lagi kok.
Ibu stres?
Stres jugalah, gimana nggak. Saya enak ngobrol gini di rumah.
Ibu sudah dihubungi pihak kepolisian tentang perkembangan kasus?
Belum. Tapi saya ikuti perkembangan kasus dari rumah. Pagi ini saya buka detikcom, saya pantau dari sini saja.
(nik/iy)










































