Kronologi Tabrakan Kapal di Selat Malaka

Kronologi Tabrakan Kapal di Selat Malaka

- detikNews
Minggu, 03 Agu 2008 18:25 WIB
Jakarta - Kapal MC Damai Lestari ditabrak kapal tanker MT Pancoral di perairan Selat Malaka. Pangkalan TNI AL (Lanal) Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau (Kepri) telah melaksanakan evakuasi korban kecelakaan.

Kegiatan berawal dari informasi yang berasal dari pimpinan perusahaan agen kapal PT. Admiral Lines cab. Tg Balai Karimun, via telepon pada tanggal 01 Agustus 2008 pukul 20.00 WIB. Dalam laporan tersebut dijelaskan, telah terjadi tabrakan antara kapal MV Damai Lestari yang bertolak dari Gresik ke Belawan dengan muatan pupuk, dengan kapal tanker MT Pancoral berbendara Indonesia dengan tujuan Tanjung Uban.


Tabrakan ini mengakibatkan tenggelamnya MV Damai Lestari dengan awak sejumlah 22 orang. Peristiwa tersebut terjadi di perairan Selat Malaka pada posisi 20 mil dari Bagan Siapi-api, Provinsi Riau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demikian kronologi siaran pers yang diterima detikcom, Minggu (3/8/2008) dari Pasintel Lanal Tanjung Balai Karimun, Kapten Laut Syariful Alam.

Dijelaskan dia, sebagai tindakan pertolongan awal, korban dari kapal MV Damai Lestari telah dievakuasi oleh kapal VLGC Flanders Loyalty dan MV SCF Khibini yang berada di lokasi dekat terjadinya tabrakan tersebut. Setelah dievakuasi, diketahui personel selamat sebanyak 19 orang, korban meninggal 2 orang, dan korban hilang (belum ditemukan) 1 orang.

"Karena kedua kapal tersebut menuju ke perairan Singapura, selanjutnya mereka menghubungi pimpinan perusahaan agar membantu dalam proses evakuasi dan pertolongan selanjutnya. Tindakan berikutnya kapal menuju ke Pulau Karimun Kecil untuk dievakuasi ke Tanjung Balai Karimun," kata Syariful dalam siaran persnya.

Berdasarkan laporan korban selamat, kapal MV Damai Lestari berangkat dari Gresik menuju Belawan pada 13 Juli 2008. Selama dalam perjalanan, kapal sering mengalami kerusakan, sampai dengan tiba di posisi perairan Selat Malaka pada posisi kurang lebih 20 mil dari Bagan Siapi-api.

Pada tanggal 01 Agustus pukul 03.00 WIB, kapal kehabisan bahan bakar, selanjutnya kapal MV Damai Lestari mengapung sambil memberikan isyarat emergency. Pada posisi tersebut kapal MV Damai Lestari ditabrak oleh MT Pancoral di bagian tengah lambung kanan.

Setelah ditabrak korban langsung berusaha menyelamatkan diri dengan menggunakan 2 unit Liferaft dan 1 unit sekoci. Korban meninggal diduga akibat tersedot oleh arus kapal tenggelam. Pada tanggal 01 Agustus 2008 pukul 11.00 WIB, sekoci penyelamat mengalami kerusakan namun segera dapat diselamatkan oleh kapal VLGC Flanders Loyalty, dan korban lainnya yang berada di liferaft diselamatkan oleh kapal MV SCF Khibini.

"Sementara korban hilang sampai dengan saat ini belum ditemukan. Selanjutnya korban selamat beserta jenazah dibawa ke perairan Tanjung Balai Karimun untuk menerima pertolongan selanjutnya," kata Syariful.

Mendapat kabar tersebut, lantas Lanal Tanjung Balai Karimun  mengerahkan Patkamla Manda yang langsung menuju Pulau  Karimun Anak dan proses evakuasi berjalan lancar. Evakuasi berjalan dalam 2 tahap. Tahap pertama korban yang dievakuasi oleh kapal VLGC Flanders Loyalty sebanyak 8 orang, tahap kedua korban yang dievakuasi oleh kapal MV SCF Khibini sebanyak 13 orang.

Korban meninggal  Sudirman (26 th) asal Makassar jabatan sebagai Officer dan Risdianto (35 th) asal Pati jabatan sebagai Engineer. Sedangkan korban hilang  Impolhotbin Nadeak jabatan sebagai  Engineer.

TNI AL saat ini sudah melaksanakan kegiatan SAR mencari korban yang hilang, Guskamlabar mengerahkan KRI Lemadang 803, Guspurlabar mengerahkan KRI Teuku Umar, Satroltas Lantamal I Belawan mengerahkan Patkamla Salanama dan Patkamla Brayan, sedangkan untuk SMC (Sar Mission Coordinator) dipimpin oleh Dan Lanal Dumai. TNI AL berkoordinasi dengan pihak Syahbandar Tanjung Uban sudah menahan kapal MT Pancoral. Dan sudah dilaksanakan pemeriksaan terhadap nakhoda kapal tersebut.

"Setelah diadakan analisa kemungkinan kecelakaan tersebut terjadi diakibatkan pertama kesalahan manusia itu sendiri karena melaksanakan pelayaran tidak dalam kondisi kapal yang betul-betul siap. Kedua ketidakwaspadaan awak kapal sehingga terjadi tabrakan. Selanjutnya ketidaksiapan peralatan pertolongan (rescue), terbukti pada sekoci penolong yang akhirnya mengalami kerusakan juga, sehingga rawan menimbulkan korban yang lebih banyak," kata Pasintel Lanal Tanjung Balai Karimun, Kapten Laut Syariful Alam. (cha/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads