"Menhub perintahkan kepada Ketua KNKT untuk melakukan penyelidikan. Apakah betul itu (rekaman) bagian dari percakapan. Aslinya disimpan oleh KNKT dalam pita rekaman black box. Yang beredar jelas bukan asli. Tapi akan diteliti dulu substansinya," ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan (Dephub) Bambang S Ervan.
Bambang menyampaikan hal itu ketika dihubungi detikcom, Minggu (3/7/2008) dini hari.
"Kalau benar substansinya sama, berarti ada yang merekam. Mengapa rekamannya sampai ada yang keluar. Perlu diselidiki KNKT," ujar dia.
Menurut Bambang, ada kemiripan antara rekaman yang beredar dengan rekaman Cockpit Voice Recorder (CVR) KNKT. "Sedikit ada kemiripan. Tapi mungkin ada yang berbeda, KNKT yang tahu, perlu diselidiki," tuturnya.
Kotak hitam AdamAir 574, lanjut Bambang, setelah diambil dari kedalaman laut 2 ribu meter di Majene, kotak hitam itu dibawa ke Amerika Serikat untuk dibaca. Salah satunya di pabrik Boeing, produsen pesawat B 737-400.
"Yang membawa langsung Ketua KNKT sendiri. Didengarkan lagi oleh tim penyelidik. Didengarkan untuk ke dalam. Kalau ada orang internal (yang membocorkan), biar KNKT yang menyelidikinya," ujar dia.
Bambang menyesalkan rekaman itu menjadi polemik di media massa. Padahal, sudah ada laporan lengkap dan ilmiah hasil investigasi KNKT yang sudah dirilis dan dilihat publik.
"Sudah ada setumpuk di website KNKT. Kan sudah ada dokumen lengkap, kronologi kejadian, penyebabnya. Mengapa orang masih berspekulasi mengenai penyebabnya. Kan ada yang resmi diakui," tandas mantan atase perhubungan RI di Malaysia ini. (nwk/asy)











































