"Kalau bencong sih, jelas-jelas ketahuan. Namun, yang namanya gay, sulit diduga," tutur Retna, dalam perbincangan dengan detikcom beberapa waktu lalu itu. Retna pun dengan enteng bercerita tentang kehidupan gay di Bangkok. Bangkok, menurut Retna, sedang terjadi booming gay.
Di negeri Gajah Putih itu, memang tidak ada data pasti berapa banyak kamunitas gay. Namun, diperkirakan, gay dan bencong itu jumlahnya sudah mendekati angka 1 juta orang. Dan sebagian besar dari mereka berada di kota Bangkok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jelas ini berbeda dengan di Indonesia. Di Indonesia, kalangan bencong jangan berharap bisa bekerja di posisi posisi formal, baik di kantor pemerintah maupun swasta. Bencong kebanyakan hidup dari dunia nonformal, seperti di salon kecantikan, perias dan sebagian kecil lagi hidup di jalanan sebagai pengamen menor.
Di Bangkok, pertunjukan bencong mendapat posisi tersendiri. Setiap malam pertunjukan show bencong dipenuhi turis. Show bencong menjadi daya tarik yang menyedot devisa. "Show bencong atraktif dan menjadi andalan khas untuk menarik turis," kata Somphorn, warga Bangkok.
Somphorn lelaki beranak satu ini, sependapat dengan Retna. "Kehidupan bencong di Bangkok lebih transparan. Namun kalau gay tidak terlihat nyata," kata Somphorn. "itulah yang membuat perempuan Bangkok esktra hati-hati memilih suami," tambahnya.
"Gay memiliki dua dunia. Mereka sangat terselubung. Itulah yang mengerikan," kata Retna. Menurut Retna, kalau Anda ke Bangkok, tak hanya bisa menikmati lezatnya durian Montong, tapi juga geliat gay dan show bencong. (bdi/bdi)











































