Seperti yang dialami ibu pemilik warung tegal, sebut saja Yuli (53), yang wartegnya berada tepat di depan asrama putri SETIA di RT 1 RW 4, Kampung Pulo, Pinang Ranti, Jakarta Timur.
Menurut Yuli, asrama yang sudah berada lebih dari 15 tahun di Kampung Pulo, selama ini tidak bermasalah dengan warga sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yuli juga mengetahui, satu tahun lalu ada demonstrasi yang minta kampus SETIA dibubarkan. Namun, Yuli mengaku tidak tahu alasan di balik demo itu.
"Saya nggak tahu. Kalau ada demo saya diajak demo. Suruh tutup warung. Tapi saya nggak mau. Saya sudah susah," ujar dia.
Mahasiswi di asrama putri itu, imbuh dia, memang sering berbelanja di wartegnya. Namun Yuli mengakui, jarang berbincang-bincang dengan mereka.
"Ngobrol sih nggak, karena kita orang tua kali. Sama kita sih baik-baik saja. Ketua asrama putrinya baik-baik saja. Sama kita, yang perempuan sih ramah-ramah. Kalau yang laki nggak tahu," tuturnya.
Menurut Yuli pula, mahasiswi itu baru menempati asrama putri sekitar Kamis 24 Juli 2008. "Karena menggantikan senior yang sudah diwisuda," kata dia.
Gara-gara keributan warga-mahasiswa SETIA, Yuli yang merasa tidak turut andil dalam masalah jadi kena getahnya. Genteng, asbes dan kaca wartegnya rusak, karena terkena lemparan batu dari arah asrama.
Pantauan detikcom, asbes di warteg itu berlubang dengan diameter sekitar 3 centimeter.
"Saya bingung rumah saya rusak. Siapa yang ganti. Saya bingung sendiri. Kalau ini nggak reda-reda, bagaimana saya bisa dapet duit," keluhnya. (nwk/iy)










































