Cipete Vaganza memang 'PRJ'-nya warga Cipete, Jakarta Selatan. Jadi wajar saja jika warga setempat berbondong-bondong datang. Ada yang mencari barang tertentu, makan jajanan khas betawi yang pada hari biasa sulit dicari, sampai sekadar cuci mata doang.
Acara yang digelar di Jl Cipete Raya itu cukup meriah. Pengunjung bisa menikmati alunan musik gambang kromong dan tanjidor. Jika perut keroncongan, aneka makanan siap mengganjal. Kebanyakan stand memang menjual aneka makanan khas betawi, seperti soto, sop dan kerak telor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Acara seperti ini harus dilestarikan. Kerak telor jangan cuma setaon (setahun) sekali," tukas Foke.
Kekhawatiran Foke akan sirnanya budaya lokal betawi tentu sangat beralasan. Saat ini kita tak lagi banyak warga betawi yang menyajikan gambang kromong atau tanjidor dalam pesta keluarga, entah itu khitanan atau pernikahan. Mahal, ribet, dan banyak lagi alasan. Mendingan organ tunggal, praktis dan meriah.
Begitu pula dengan anak-anak betawi saat ini. Jarang sekali mereka memainkan permainan Betawi seperti gobak sodor, getok kadal dan sebagainya. Gempuran mainan import membuat anak-anak kini 'terpaksa' meninggalkan permainan tradisional itu. Apalagi mencari lapangan bermain di dekat rumah bukan perkara mudah.
Jadi selain rajin menggelar festival semacam Cipete Vaganza ini, sangat bijak rasanya jika Pemda DKI menyediakan sarana bermain anak-anak yang lebih luas lagi. Gimane Bang Foke? (djo/djo)











































