"Ini yang salah kaprah, beti beda tipis. Golput karena sikap politik atau karena tidakrapihnya pendaftaran pemilih," ungkap anggota KPU Sri Nuryanti di Mario's Place, Menteng Huis, Jakarta, Kamis (24/7/2008).
Sri mencontohkan, ada orang yang golput padahal dia terdaftar sebagai pemilih. Namun, kadang-kadang di sejumlah daerah berbenturan dengan adat istiadat tertentu. Banyak warga di desa yang menunda mencoblos karena panen raya misalnya, dia pun terlambat ke TPS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lanjut Sri, banyak orang menjadi golput bukan karena sikap politik, tapi memang sudah jenuh dengan pemilihan umum yang sudah ada. Apalagi di satu tempat harus ada pemilihan kepala desa, bupati, walikota, gubernur secara bersamaan dan pemilihan presiden.
"Mereka merasa sudah mengikuti itu semua, tapi kok nggak ada perubahan apa-apa terhadap masyarakat, ini kan persoalannya juga," tandasnya.
Untuk itu, menurut Sri, tidak hanya tugas KPU untuk meyakinkan dan mengingatkan kepada masyarakat tentang pentingnya menggunakan hak pilih. "Semua harus mengingatkan, ya masyarakat itu sendiri, LSM, pers, juga partai politik," ujarnya lagi. (zal/fay)











































