Setiap menjelang salat maghrib, adalah lazim jika kita mendengar alunan azan di TV. Suara merdu sang muazin mengajak segenap umat Islam untuk mendirikan salat 3 rakaat.
Namun persoalannya menjadi lain, jika sosok yang tampil selaku muazin itu adalah seorang cagub. Maka pro kontra pun terjadi. Itulah yang terjadi di Riau menjelang pilkada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suara azan maghrib itu memang dilafalkan Rusli Zainal dengan suara yang merdu. Maklum dia pernah meraih qori (pembaca Al Quran) terbaik tingkat MTQ Nasional.
Buntut pro kontra ini, Panwasda Riau didesak tidak hanya sekadar menertibkan baliho. Lembaga tersebut juga diminta menghentikan tayangan azan tersebut.
Rusli Ahmad, Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) Riau mengatakan, warga tentunya bangga mempunyai seorang gubernur memiliki suara merdu ketika melantunkan azan maghrib di televisi. Namun ceritanya menjadi lain saat Rusli bersiap kembali maju dalam pilkada. Orang bisa menilai, urusan agama ditarik ke ranah politik.
"Sebaiknya tayangan itu dicabut saja. Saya yakin, selain Rusli Zainal masih banyak kok qori lainnya di Riau yang mampu melantunkan azan lebih baik lagi," kata Rusli Ahmad.
Β
Pendapat berbeda disampaikan Heri Bangun, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Pekanbaru. Baginya, urusan azan incumbent itu tidak perlu dipolitisir.
"Yang tidak suka tayangan azan Pak Rusli itu hanya lawan-lawan politiknya saja. Kita justru bangga, memiliki seorang gubernur yang pandai mengaji serta melantunkan azan dengan merdu," kata Heri. (cha/djo)











































