Sekitar pukul 21.30 WIB, Rabu (23/7/2008), berbaju coklat dan bercelana pendek selutut, dengan borgol di tangan, serta sebuah bungkusan plastik hitam, Ryan memasuki gedung tahanan narkoba di Jl Sudirman, Jakarta.
Dia ditempatkan di sel khusus yang memang diperuntukan bagi tahanan spesial. Antara lain tersangka pelaku teroris dan tersangka dari FPI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah dia menyesal? Ryan menganggukan kepala. Apakah dia akan puasa Kamis besok? Dia pun menganggukkan kepala.
Namun dia tidak bereaksi apa-apa saat, ditanya adakah korban lainnya selain 5 korban yang diketahui telah dia bunuh.
Ryan memang dikenal agamis. Seorang penyidik menyebutkan Ryan adalah lulusan sekolah keagamaan dan dia juga kerap mengajar mengaji.
Penyidik itu lalu bercerita, Ryan menjadi seorang pecinta sesama jenis setelah mengenal seorang bernama Ars yang dikenalnya di Jombang. "Itu cinta pertamanya. Waktu ditahan Ryan dijenguk dan mereka bertangis-tangisan," sebut penyidik itu.
Lalu bagaimana, adakah kemungkinan korban Ryan bertambah? "Pengakuan dia hanya 5 itu, tapi kita masih cari," tandas penyidik yang enggan disebutkan namanya itu. (ndr/ken)











































