"Wah, kita jadi tidak enak. Kita juga sudah jarang kumpul-kumpul keluar rumah," kata Adi, seorang gay, kepada detikcom, ditemui di kantornya, Jalan Kapten A. Rivai Palembang, Rabu (23/07/2008).
Menurut lelaki berparas ganteng yang minta dipanggil Adi, tidak semua gay berperilaku seperti Ryan. "Ya, ituย persoalan lain, seperti para pembunuh lainnya, bukan hanya orang seperti kami," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, kata Adi, kaum gay di Palembang sudah mencapai 200ย lebih.ย "Itu yang mulai mau menunjukkan dirinya. Tapi, masih banyak kok (yang malu)," katanya.
Mereka ini dari berbagai profesi, mulai dari pegawai negeri, aparat keamanan, hingga pebisnis. "Yang mengelola salon dan butik yang paling banyak," katanya.
"Kami minta nian dengan masyarakat jangan menilai kami seperti Ryan. Kami ini manusia biasa, seperti umumnya orang lain," pesan Adi.
Sebagai informasi, kaum gay di Palembang selain sering ngumpul di cafe atau pusat keramaian, juga sering nongkrong di sekitar Kantor Pos Merdeka, Jalan Merdeka, dan simpang International Plasa, Jalan Jenderal Sudirman. (tw/djo)











































