Bertemu Agen FBI Betulan

Laporan dari AS

Bertemu Agen FBI Betulan

- detikNews
Rabu, 23 Jul 2008 05:48 WIB
Bertemu Agen FBI Betulan
Indianapolis - Saya mengenal sosok agen Federal Bureau of Investigation (FBI) dari film-film buatan Hollywood yang saya tonton sejak kecil. Gambaran yang terekam di kepala adalah petugas-petugas berambut cepak dengan senjata terkokang, mengenakan jaket hitam bertuliskan FBI di punggungnya. Adegan-adegan ketika mereka sedang menggeledah rumah orang yang dicurigai sebagai pelaku kejahatan, atau sedang menangkap tersangka, begitu membekas di ingatan hingga saya besar.

Akhirnya saya tadi bertemu langsung dengan seorang agen FBI betulan dalam diskusi mengenai kejahatan komputer (cyber crime) yang berlangsung di kantor Symphony Centre, East Washington Street, Indianapolis, ibukota negara bagian Indiana, AS, Senin 21 Juli 2008.

Steve M.Kelly, Supervisor Agen Khusus dari Squad C-2 yang menemui kami, para peserta International Visitor and Leadership Program (IVLP) yang diundang Deplu AS, rasanya lebih mirip seorang pengusaha atau eksekutif sebuah perusahaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengenakan setelan jas warna hitam, kemeja putih dan dasi merah, tubuhnya tampak tidak terlalu tinggi untuk ukuran orang bule. Wajahnya kelimis dengan rambut tercukur rapi, sambil tersenyum mengajak berkenalan. Tapi bila diteliti, yang membedakannya dari pengusaha atau eksekutif biasa, di pinggang kanannya terselip pistol.

Steve yang sudah 6 tahun menangani masalah kejahatan komputer di Indianapolis ini menjelaskan, bahwa ada empat area yang menjadi tanggung jawab timnya. Keempat area itu adalah penyusupan komputer, distribusi online pornografi anak, pelanggaran hak intelektual, internet fraud dan pencurian identitas yang dilakukan menggunakan komputer dan internet.

Dari keempat area itu,menurut Steve, masalah yang dampaknya paling merugikan lagi, korban adalah kejahatan pencurian identitas. "Pencurian identitas ini biasanya digunakan oleh si pencuri untuk mengambil kredit dari bank, membeli barang, dan menguras isi rekening bank pemilik identitas, kata agen yang berlatar pendidikan teknik sipil ini.

Sedangkan masalah lain yang cukup serius adalah distribusi pornografi anak-anak melalui internet. "Di Indianapolis ada banyak laki-laki kulit putih yang suka mendownload foto-foto atau video porno anak-anak," katanya.

Sayangnya situs-situs itu sekarang cukup cerdas untuk tidak menempatkan hostingnya di Amerika Serikat, tapi di luar negeri. Karena bila perusahaan hosting yang digunakan situs-situs tersebut berada di Amerika, maka FBI berhak untuk menutup situs itu. Undang-undang di AS juga bisa menghukum orang-orang yang memiliki foto-foto atau video yang berisi pornografi anak.

Selain menangani kasus-kasus kejahatan komputer yang terjadi di Indianapolis dan negara bagian Indiana, Steve dan anggotanya juga menangani kasus-kasus berskala nasional bahkan internasional yang melibatkan kerjasama antarnegara. Seperti masalah terorisme yang menjadi prioritas utama pemerintah AS saat ini.

"Salah satu tugas kami juga mengawasi komunikasi yang dilakukan para teroris ini melalui internet. Pertukaran ide ataupun proses rekruitmen. Atau bahkan rencana penyerangan. Itu jadi prioritas tugas kami secara nasional untuk menjaga penyerangan terhadap sarana infrastruktur milik negara," jelasnya.

Kejahatan lain yang dilakukan teroris, kata Steve, adalah mengubah tampilan depan sebuah website dan mengisinya dengan pesan-pesan yang ingin disampaikan para teroris tersebut.

Tak Mudah Menyadap

Meskipun begitu Steve dan koleganya di satu sisi lain harus menegakkan konstitusi, salah satunya Amandemen Pertama yang menjunjung tinggi kebebasan berbicara. Untuk bisa menyadap percakapan telepon atau membuka alamat email seseorang, FBI memerlukan persetujuan dari hakim.

"Kami harus mengisi formulir untuk menjelaskan kepada hakim alasan mengapa kami perlu melakukan penyadapan terhadap email dan percakapan telepon orang tersebut. Dan itu bukan prosedur yang mudah karena hakim merupakan bagian dari yudikatif, sedangkan FBI yang berada di bawah Departemen Keadilan merupakan bagian dari eksekutif. Hakim pun bisa menolak permintaan kami itu. Bila tak disetujui hakim, maka kami tak akan bisa melakukan penyadapan itu," katanya.

Tim yang dipimpin Steve terdiri dari 12 orang agen yang bertugas secara penuh waktu, dan banyak informan yang tersebar di masyarakat dengan berbagai profesi. Misalnya politisi, pimpinan sebuah organisasi, pekerja media, mahasiswa, dan petugas yang bekerja untuk ISP.

"Kami merekrut orang-orang yang memiliki akses terhadap pelaku kejahatan untuk menjadi informan kami. Meskipun begitu untuk merekrut seorang wartawan atau politisi diperlukan persetujuan tingkat tinggi," jelasnya.

Squad C-2 Agen Khusus untuk menangani kejahatan komputer ini dibentuk pada tahun 2002. "Kami mempekerjakan para ahli ilmu komputer dari berbagai universitas, ahli digital forensik, dan jaringan komputer, "paparnya.

Saat ini, kata Steve, di setiap kantor FBI wilayah negara bagian pasti ada 1 divisi khusus yang menangani kejahatan komputer. "Kecuali di kota-kota tertentu seperti Washington DC dan San Fransisco, kantor FBI setempat memiliki 5 divisi yang khusus kejahatan komputer," ujar pria banyak tawa ini.

DVD Bajakan

Kejahatan komputer yang termasuk area penanganan Steve adalah pelanggaran hak cipta intelektual. "Sering terjadi film yang belum dirilis di bioskop, tapi sudah tayang di internet atau sudah ada DVD bajakannya yang beredar di kaki ima. Tentu saja ini sangat merugikan perusahaan film yang membuatnya, karena membuat mereka kehilangan potensi pendapatan yang cukup besar. Saya kira itu juga yang terjadi di Indonesia kan?" katanya.

Kejahatan di area ini juga berupa penyusupan ke jaringan komputer milik sebuah perusahaan dan mencuri data hasil riset atau pengembangan yang dilakukan perusahaan tersebut.

Internet fraud juga adalah hal yang cukup memusingkan Steve, karena sering terjadi kasus perusahaan online yang menerima pembayaran tapi tak mengirimkan barang yang sudah dibayar, atau pembeli yang membeli barang tapi kemudian membayarnya dengan cek palsu.

"Apa pun yang menghasilkan uang dari internet secara ilegal, dari hasil investigasi kami kebanyakan uang hasil kejahatan itu kemudian dikirim ke organisasi-organisasi kejahatan di Eropa Timur," tutup Steve. (nrl/gah)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads