Pengakuan tersebut dikatakan Tumini (70) nenek Guruh. Menurut Tumini, cucunya itu ketika belum menghilang, dikenal sebagai anak yang baik hati.
"Saben mantuk dateng nggriyo, mesti maringi yotro dateng kulo. (Setiap kali pulang kampung, pasti memberi uang kepada saya-Red)," kata Tumini kepada detiksurabaya.com saat ditemui di rumahnya, Desa Kedondong, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Selasa (22/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengakuan Tumini juga dibenarkan Sunamah (42), salah satu tetangga Guruh. Menurut dia, Guruh dikenal sebagai sosok yang tidak hanya baik hati, namun juga berakhlak baik. "Kepada tetangga sopan, nggak pernah macem-macem," kata Sunamah.
Meski demikian, Sunamah mengaku Guruh juga diketahui sebagai sosok yang tidak memiliki kepribadian seperti lelaki pada umumnya. Guruh di mata Sunamah dan tetangganya dikenal memiliki hati yang sangat lembut.
"Selama masih tinggal di sini sangat jarang dia berkumpul dengan anak laki-laki. Lebih sering mengurung diri dalam rumah dan kalau lagi sedih sangat tertutup," ungkap sunamah.
Seperti diberitakan, pasangan Tuwijo dan Tuminem mengaku kehilangan anaknya bernama Guruh Setyo Pramono sejak April 2007 silam. Dugaan sementara dia merupakan satu di antara 4 mayat manusia korban pembunuhan Ryan yang ditemukan di Jombang. (fat/asy)











































