Mereka selama 3 hari mempertontonkan keahlian dan keterampilan individu dalam berbagai bentuk. Ada ketangkasan melempar bola karet, tongkat, diablo, bahkan dengan api sekaligus. Ada pula di antara mereka yang memamerkan bakat berjalan di atas tali menggunakan monocycle sembari melempar-lempar kelop karet.
Tak hanya melulu menghibur, beberapa terlihat berjalan-jalan mengellingi kota Linz menggunakan tongkat egrang tanpa pegangan sambil melakukan kampanye perlindungan alam. Tak semuanya beraksi dengan skill uniknya, sebagian juga hanya berdandan ala tokoh dengan aneka macam warna di sekujur tubuh atau malah memainkan alat musik untuk mengundang perhatian publik. Mereka semua ini adalah para seniman profesional maupun pemula yang sehari-harinya beraksi di pusat keramaian di suatu negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang jelas, aktivitas yang sudah digelar tiap tahun ini, berhasil menggaet wisatawan datang hanya untuk melihat festival ini. Buktinya, ratusan ribu pengunjung memadati kota Linz hingga jalan protokol ditutup saat aksi dihelat.
Sementara sebelum aksi digelar, para pengunjung dalam dan luar negeri memanfaatkan waktu dengan berbelanja dan nongkrong di kafe-kafe sepanjang jalan utama Linz. Terobosan seperti ini mungkin bisa diadopsi Indonesia untuk meraup wisatawan manca maupun domestik.
Sebagai catatan, Austria pernah membukukan pemasukan hingga 30 milyar Euro atau sekitar 450 trilliun Rupiah hanya dari sektor pariwisata pada 2005 . Angka ini berjalan fluktuatif pada tahun tahun berikutnya. Hmm, jika Indonesia bisa melakukan hal yang kurang lebih sama, boleh jadi kita bisa mengantongi devisa lebih banyak mengingat kekayaan budaya dan alam kita, lebih unik dan eksotis. (sal/asy)











































