'Piknik' ke AS yang Menegangkan

Laporan dari AS

'Piknik' ke AS yang Menegangkan

- detikNews
Senin, 21 Jul 2008 08:07 WIB
Piknik ke AS yang Menegangkan
Washington DC - Setahun lalu saat mendapat undangan dari Kedubes AS untuk mengikuti International Visitor Leadership Program (IVLP) on Cyber Media Journalism selama 3 minggu di AS pada pertengahan Juli 2008, hati jelas gembira. Benak membayangkan suasana AS yang selama ini lebih banyak disuguhkan lewat film-film Hollywood.

Namun beberapa hari sebelum keberangkatan, justru ketegangan yang muncul. Bagaimana tidak. Penerbangan ke 'negeri impian' itu butuh waktu lebih 24 jam. Jelas perjalanan yang melelahkan.

Ketegangan selanjutnya adalah terkait peningkatan keamanan di semua bandara di AS pasca serangan WTC 911. Kedubes AS di Jakarta yang memberi briefing dua hari sebelum keberangkatan, melampirkan sejumlah artikel di media massa Indonesia yang isinya pengalaman WNI yang menderita dan kelelahan menghadapi pemeriksaan superketat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan ada yang namanya 'secondary screening'. Menurut Kedubes AS, perempuan lebih sukses menerobos pemeriksaan di bandara. Jadi secondary screening lebih dikhususkan pada kaum pria. Pria asal Indonesia jelas masuk bidikan.

Proses ini bisa makan waktu sangat lama. Petugas tak mau tahu pada jadwal penerbangan kita selanjutnya, jika memang belum puas menginterviu korban 'secondary screening'. Banyak orang yang akhirnya ketinggalan pesawat berikutnya gara-gara hal ini.

Rombongan kami ada 3 orang, yaitu saya, Nenden Novianti dari website www.presidensby.info dan Augustinus Wisnubrata dari Kompas.com. Oleh Kedubes AS, kami sudah diwanti-wanti, jika Wisnu terkena secondary screening, tidak usah ditunggu, saya dan Nenden harus go head.

'Wisata' ini dimulai pada Jumat 11 Juli. Kedubes AS telah membekali kami dengan perlengkapan yang sempurna, mulai materi IVLP, tiket pesawat hingga akomodasi. Jadi kami tinggal berangkat saja sembari mengatur 'ketegangan'.

Penerbangan pertama adalah Jakarta-Singapura dengan Emirates. Terbang pukul 20.30 WIB dan tiba pukul 23.15 waktu setempat. Bagasi kami minta dikirim langsung ke Washington DC, tempat kami akan menetap selama seminggu. Selama menunggu penerbangan berikutnya, kami mendapatkan fasilitas lounge. Di sini kami bisa leyeh-leyeh di kursi empuk, mengunyah cemilan dan mandi air hangat.

Sabtu 12 Juli pukul 03.30 waktu setempat, kami ke counter maskapai milik AS, Northwest Airways (NWA) untuk check in. Di depan counter itu terdapat sofa-sofa seperti ruang tunggu di lobi bioskop. Yang unik, saat itu lobi itu dipenuhi oleh pria dan wanita, yang kami yakini berasal dari Indonesia. Mereka tidur di sofa maupun di atas karpet dengan berselimutkan kain batik (jarik) maupun sarung. Jumlahnya cukup banyak. Pemandangan yang tidak indah, tapi mereka tidak diusir.

Sebelum check in, dua petugas memeriksa kami dan menjelaskan peraturan penerbangan termasuk menanyai apakah kami mempacking barang sendiri atau dibantu orang lain dan apakah ada barang titipan untuk orang lain. Setelah itu maju ke meja check in dan mendapatkan 3 tiket untuk 3 penerbangan selanjutnya.

Lantas kami menuju ke gate penerbangan yang baru buka pukul 05.00. Saat pemeriksaan barang, laptop diminta dihidupkan sebentar, namun tidak diperiksa isinya kok. Tujuan kami adalah Bandara Narita, Tokyo, terbang selama 6 jam. Tiba di siang hari, kami lalu buru-buru check in lagi untuk mengejar pesawat yang lebih besar, menuju Minneapolis, AS.

Di sini antrean sangat panjang, padahal pesawat akan terbang setengah jam kemudian. Oleh petugas bandara, laptop disuruh dikeluarkan dari tas namun tidak disuruh dihidupkan. Perjalanan Tokyo-Minneapolis makan waktu hingga 12 jam. Kegiatan kami jelas hanya makan dan tidur saja.

Ketegangan yang sebenarnya terjadi di Minneapolis. Inilah AS. Apakah pemeriksaan melelahkan akan kami alami? Dag dig dug. Saat kami antre pemeriksaan di loket Imigrasi, Wisnu yang berada di depan kami cukup lama ditanya-tanya oleh petugas.

Setelah itu petugas Imigrasi berkata, "Akan ada seseorang yang memeriksa paspor Anda." Itu artinya, Wisnu kena secondary screening. Tak hanya Wisnu yang tegang, saya dan Nenden juga, karena kami khawatir pemeriksaan itu membuat rombongan kecil ini terpisah.

Tak lama kemudian seorang pria membawa Wisnu ke ruang Passport Clearance. Sedang kami yang cukup mudah melewati Imigrasi meneruskan perjalanan dengan mengambil koper bagasi.

Jadi meski bagasi kami tujukan langsung ke Washington DC, namun di Minneapolis bagasi kita ambil untuk pengecekan x-ray. Setelah dicek, koper masuk bagasi pesawat lagi. Untuk laptop, hanya dikeluarkan dari tas saja, tidak disuruh dihidupkan. Namun sepatu, ikat pinggang dan jaket harus dilepas. Bayangan menyeramkan bahwa koper saya akan diobok-obok tidak terbukti.

Setelah beres, kami mencari gate keberangkatan Northwest Airways. Belum sejam jam duduk di ruang tunggu, syukurlah rekan kami yang menjadi korban secondary screening muncul. Legalah kami. Sebab kami akan tetap bersama-sama dalam perjalanan selanjutnya.

Wisnu merasa beruntung karena dia adalah orang pertama yang masuk ruang secondary screening sehingga paling cepat keluar. Di ruang Passport Clearance, dia diberi pertanyaan "biasa-biasa saja", seperti tinggi badan, berat badan, nama orangtua, tujuan pergi, termasuk jumlah uang yang dibawa, meskipun dia tak disuruh memperlihatkan uangnya. 'Korban' yang kooperatif cenderung akan mudah melewati secondary screening.

Menurutnya, setelah dia masuk ruang secondary screening, pria-pria asal Indonesia lainnya juga 'kena jaring'. Pemeriksaan 'tersulit' dilakukan pada sepasang suami istri. Pasangan ini mengaku ke AS untuk berlibur namun mereka tak mampu menyebutkan tujuan mereka pasti. Mereka baru memutuskan pergi ke mana saja setiba di AS.

Tujuan yang tidak pasti inilah yang tampaknya mempersulit pasangan ini. Jadi kalau ke AS memang tak bisa berkata, "Lihat saja nanti." Dari Minneapolis, kami melanjutkan penerbangan lokal ke Washington DC.

Pada Sabtu 19 Juli waktu AS, kami berpindah kota dari Washington DC ke Indianapolis, ibukota negara bagian Indiana. Dalam penerbangan lokal 1,5 jam ini, Wisnu lagi-lagi kena perlakuan istimewa. Dia harus melewati screening di sebuah alat yang juga baru saja dimiliki Bandara Soekarno-Hatta yaitu scanner canggih ProVision. Wisnu disuruh masuk ke alat itu, disuruh angkat tangan, lalu mesin berputar untuk memindai. Mesin ini untuk mengetahui apakah orang tersebut membawa benda berbahaya.

Perlakuan pada Wisnu ini kami sebut istimewa karena banyak lelaki di depan deretan dia yang tidak mengalami hal serupa. (nrl/nwk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads