Gunawan (20) adalah salah seorang keluarga pasien yang berpikir demikian. Dia sadar bahwa ayahnya yang sempat 3 hari menginap di ruang instalasi rawat inap sesungguhnya tidak punya hak untuk itu dan tidak mempermasalahkan pengusiran oleh manajemen RSCM.
"Pasrah saja. Tapi yang penting bapak bisa tetap bisa berobat jalan," ujar mahasiswa semester V Politeknik UNJ penerima beasiswa ini, Minggu (20/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat komplikasi parah itu, sejak tiga bulan lalu Fakhruri tiap pekan harus menjalani dua kali cuci darah. Untung saja sebagai pemegang Kartu Keluarga Miskin (GAKIN), bukan biaya cuci darah yang menjadi beban, melainkan ongkos tranportasi bolak-balik Bekasi-RSCM.
"Untuk ongkos angkot saja, kami sudah habis Rp 2 juta. Ini besar sekali bagi kami," kenang Gunawan.
Demi menekan pengeluaran keluarga, Gunawan berikhtiar mengupayakan agar sang ayah yang berstatus pasien rawat jalan itu dapat menginap di RSCM dan berhasil. Sayangnya hanya 3 hari. Tapi sejak hari pertama, dia sudah mendapat pemberitahuan bahwa harus pindah dalam waktu dekat.
"Kata satpam ruangannya mau renovasi. Tapi tidak diberi tahu kami harus ke mana," sambungnya.
Sekarang prioritas Gunawan adalah kesembuhan Fakhruri. Paling tidak, kondisi Fakhruri stabil dan tidak lagi meracau bila sedang kambuh.
Hal lain yang menganggu pikirannya adalah mencarikan sumber nafkah bagi keluarga. Sebab usaha jahit kecil-kecilan yang dikelola ibunya terpaksa tutup karena ikut mengurusi sakit sang ayah.
(lh/asy)











































