Maka, Blausee yang biasanya didominasi wisatawan domestik asal Swiss sendiri, Sabtu (19/7/2008) kemarin, memendarkan atmosfir khusus, suasana keguyuban ala Indonesia. Jangan kaget jika kemudian sampai muncul tari Poco-Poco di areal yang juga menjadi peternakan ikan salmon itu. "Ini tarian dari mana, Filipina ya," tanya Urs, wisatawan domestik asal Brig.
Setelah dijelaskan bahwa poco-poco yang menggelinding di Blausee merupakan budaya Indonesia, barulah laki laki yang plesiran bersama keluarganya itu manggut-manggut. "Kalian agak mirip-mirip sih mukanya dengan orang Filipina," kata dia enteng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Piknik warga Indonesia di Swiss dilakukan saban tahun, atas upaya Bernindo dan dukungan KBRI Bern. Tak tampak lagi individualitas ala Swiss. Paling tidak soal makanan, misalnya. Meski sebelumnya diumumkan agar membawa makanan sendiri, tetap saja ketika sampai di Blausee, makanan-makanan bawaan dari rumah itu ditaruh bersama dalam satu meja. "Silhkan pilih, ambil saja, jangan malu-malu," kata Tenny Schneider, ketua pelaksana Piknik Bernindo.
Acara makan makan ini memang salah satu daya tarik Piknik Bernindo. Setidaknya, sangat sulit bagi warga Indonesia untuk bisa merasakan makanan khas nusantara, kecuali harus memasak sendiri atau harus rela membelinya langsung dari segelintir restoran Indonesia di Swiss. Namun tak hanya itu suasana Indonesia memendar di Blausee. Piknik ini juga menggelar lomba menggambar untuk anak-anak, permainan badminton, lomba fotografi serta pelbagai mainan ala tujuh belas agustusan. Dan tak ketinggalan juga dangdutan dengan gitar bolong.
Duta Besar RI Lucia H Rustam menyambut baik kegiatan ini. "Kami sangat senang kegiatan silahturahmi antar warga Indonesia ini makin rekat di Swiss," kata dia. Tidak mengherankan ia dan segenap staf KBRI juga ikut meramaikan kegiatan tahunan ini. (asy/asy)











































