"Itu usulan yang absurd. Dia tak lihat realita pasien sesungguhnya. Pasien nggak usah diajarin seperti itu bisa sendiri kalau memang ada saudara. Anak TK saja bisa ngasih solusi seperti itu," ujar pengacara publik YLBHI Febi Yonesta di di aula YLBHI, Jl Diponegoro, Jakarta, Jumat (18/7/2008).
Febi meminta kepada Menkes melihat sendiri kondisi pasien yang sangat memprihatinkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ada saudara di Jakarta, nggak disuruh menteri pun kita ke sana sendiri, ngapain dibilangi," ujar Yuliana kepada detikcom dengan nada kesal.
Yuliana, yang saat ditemui detikcom sedang makan nasi dengan lauk ikan asin, mengaku kondisi kesehatannya semakin menurun pascapindah dari RSCM tiga hari lalu.
"Sakit banget, kayak orang bisulan mau pecah. Apalagi waktu dari RSCM ke sini jalan kaki. Rasanya sakit sekali," keluh Yuliana.
Dalam kondisinya yang memprihatinkan tersebut, Yuliana masih saja mendapat pungutan liar. "Kemarin saya disedot cairan di tubuh. Saya harus bayar Rp 565 ribu. Tapi yang tertulis di kwitansi hanya Rp 256 ribu. Di mana yang Rp 300 ribu," tanya Yuli.
Sementara itu, pasien lainnya yang menderita tumor ganas di leher, Dedi Damhudi, juga semakin menurun kondisi kesehatannya pascapindah ke RSCM. Ia pun berharap agar kembali dirawat di RSCM.
"Kondisi suami saya makin menurun. Maunya ke RSCM lagi biar dekat pengobatannya,' ujar istri Dedi, Imah, memelas. (anw/gah)











































