"Lebih mending milih artis. Dilihat enak, sering muncul di TV, kalau kita menderita mereka bisa nyanyi dangdut lagi," ujar Pakar Komunikasi Politik Effendy Ghazali.
Effendy mengatakan itu dalam acara sarasehan 'Kepemimpinan Nasional dan Prospek Indonesia ke Depan' di Hotel Kartika Chandra, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (17/7/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun artis berpolitik itu harus berkaca diri. Mereka harus menyesuaikan diri dengan kemampuan masing-masing.
"Misalnya Dede Yusuf, dia kan sudah punya pengalaman di DPR. Helmi Yahya juga ada banyak pengetahuan. Tapi kalau Syaiful Jamil?" tanyanya yang diikuti derai tawa wartawan.
"Anda tertawa kan? Masalahnya untuk masuk dalam dunia politik kapabilitas itu dipertanyakan," jelas penggagas tayangan News Dot Com ini.
Meski demikian, dosen UI ini menyatakan, selebriti politik bukan cuma artis. Selebriti politik itu orang-orang yang menempati media massa ketika mereka menyampaikan kebijakan-kebijakan yang menyangkut kepentingan publik.
"Tokoh-tokoh masyarakat yang duduk di legislatif dan eksekutif yang menyuarakan kepentingan publik termasuk selebriti politik," tandasnya.Artis-artis yang akan dicalonkan menjadi caleg dari PAN antara lain Wulan Guritno, Marini Zumarnis, Tito Sumarsono dan Iyeth Bustami.
(nik/gah)











































