Kisah pilu ini diceritakan Yunita di Mapolres Jakarta Selatan, Jalan Wijaya, Jakarta, Rabu (16/7/2008).
Awalnya begitu indah. Yunita mengenal dan menjalin hubungan asmara dengan suaminya Angga (19), di SMU tempat dia bersekolah, 2 tahun yang lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena rasa sayang, Yunita mempertahankan hubungannya hingga ke pelaminan awal 2008, kendati masih duduk di bangku sekolah.
"Saya kira kalau sudah menikah dia makin sayang, nggak galak-galak lagi. Tapi malah dia makin kejam. Tidak tanggung-tanggung mukul dengan tangan kosong di badan. Pernah sekali mengancam membunuh saya menggunakan pisau," kisah Yunita yang tampak trauma ini.
Perempuan malang yang tinggal di Jalan Suralaya, Cilangkap, Jakarta Timur ini, usai menikah tinggal dengan mertuanya, di Jalan Pulau Mawar, Kemandoran I, Grogol Utara, Kebayoran Lama.
Bukannya mereda, temperamen suaminya malah semakin menjadi. Lelaki penjual minuman ringan di Gelora Bung Karno Senayan ini, bahkan tega memukul Yunita di depan hidung orang tuanya sendiri.
Hingga 1 pekan lalu, Angga menendang Yunita dengan keras, di pipi, muka serta badan. Yunita juga ditendang hingga terjatuh.
"Dan bukannya dia nolongin, malah semakin ganas, mendekati saya dan menyuruh saya berdiri dan menjadi bulan-bulanan, dipukuli lagi," kata dia yang baru lulus SMU tahun ini.
Setelah dipukul itu, Yunita merasakan sakit di perutnya. "Saya sakit kemudian ke bidan dan dinyatakan janin saya meninggal," tutur Yunita yang mengenakan sackdress putih bercorak kembang-kembang merah ini.
Setelah kejadian itu, rapat keluarga pun digelar. Kedua keluarga besar hingga Ketua RT pun turun tangan. Namun, hasilnya nihil.
"Tapi karena sudah terlau kejam, akhirnya saya laporkan saja ke polisi. Saya mau cerai habis ini, saya sudah nggak tahan," kata Yuni yang didampingi ibunya Manni Yulianingsih (37). (nwk/iy)










































