"Secara periodik perlu dilakukan untuk mengkondisikan anak bisa punya hiburan lain selain televisi. Akhirnya akan menjadi pola masing-masing keluarga bisa sesekali tanpa televisi," ujar Ketua Komnas PA Seto Mulyadi kepada detikcom, Rabu (16/7/2008).
Pria yang akrab disapa Kak Seto ini mengatakan, anak-anak Indonesia memang sudah sangat tergantung kepada televisi. Televisi dihidangkan dengan cukup menarik seperti ada unsur warna warni, iklan, dan sinetron.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kak Seto, anak akan kehilangan aspek motorik karena kurang gerak kalau terus menerus menonton televisi. Kemudian kurang sosialisasi dengan anak-anak yang lain. Kreatifitasnya tidak berkembang karena terus menerus dicekokin tontonan di televisi.
"Kalau program TV unsur pendidikannya kecil. Tidak dapat pendidikan moral, melihat tontonan kekerasan dan mistik. Anjuran ini bukan anti TV tapi pola diet TV," katanya.
Orang tua, lanjut Kak Seto, juga mempunyai peranan yang sangat penting. Jangan berpikir kalau anak sudah duduk diam di depan TV itu bagus. "Masalahnya jangan dibalik. Seolah orang tua nggak ada waktu untuk anak. Sering saat orang tua ada waktu malah anak tetap tertarik pada televisi. Ini yang membuat anak masih terus menonton TV," tegasnya. (gus/ken)










































