24 Pemimpin Belia Bahas Indonesia

Laporan dari Praha

24 Pemimpin Belia Bahas Indonesia

- detikNews
Selasa, 15 Jul 2008 14:20 WIB
24 Pemimpin Belia Bahas Indonesia
Praha - Sejumlah 24 pemimpin belia internasional dari Amerika Serikat (AS), Venezuela, Spanyol, Australia, Selandia Baru dan India membahas perkembangan berbagai hal tentang Indonesia di KBRI Praha, Senin (14/7/2008).

Mereka yang merupakan pelajar berprestasi itu tergabung dalam program Global Young Leaders Conference (GYLC), yang tahun ini menetapkan Ceko sebagai negara tujuan untuk kawasan Eropa Tengah dan Timur. Panitia GYLC 2008 lalu memilih KBRI Praha untuk dikunjungi, karena Indonesia dinilai mewakili negara berkembang di kawasan Asia yang sangat dinamis.

Program yang berpusat di Washington DC dan dimulai sejak 1985 itu bertujuan untuk membangun kepemimpinan belia di seluruh dunia melalui pembelajaran tentang berbagai masalah yang dihadapi dunia internasional dengan cara diskusi, negosiasi, pelatihan dan kunjungan.
Β 
Koordinator Fungsi Pensosbudpar Azis Nurwahyudi kepada detikcom Senin malam menuturkan bahwa pada kesempatan diskusi interaktif KBRI Praha dengan para pemimpin belia tersebut telah dijelaskan mengenai proses demokratisasi di Indonesia setelah reformasi, pemilihan umum secara langsung dan fakta bahwa Indonesia adalah negara demokratis terbesar keempat dengan penduduk mayoritas beragama Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah seorang siswa dari AS lalu menanyakan mengenai Islam. Dijelaskan bahwa Islam di Indonesia adalah Islam moderat dan bagaimana masyarakat Indonesia saling menghargai agama satu sama lainnya. Adapun berbagai perbedaan yang ada, seperti agama dan suku bangsa, merupakan bentuk keunikan tersendiri bagi Indonesia sesuai Bhinneka Tunggal Ika.

Sementara siswa dari Australia menggali informasi tentang hubungan bilateral antara Indonesia dan negaranya. Dia mendapat penjelasan bahwa sangat penting membina hubungan baik dengan negara tetangga melalui berbagai kerjasama. Keberhasilan menangani kasus bom Bali adalah contoh dari kerjasama erat antara Indonesia dan Australia.

Stabilitas perekonomian, kebudayaan dan pariwisata juga ditanyakan, terutama mengenai kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh semua kedutaan Indonesia untuk meyakinkan calon wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.

Atas pertanyaan tersebut dijelaskan bahwa salah satu tugas dari diplomat adalah untuk mempromosikan negaranya, termasuk bidang ekonomi, pariwisata dan kebudayaan. Oleh karena itu berbagai upaya seperti pameran, penyelenggaraan acara seni budaya, pemutaran film dan berbagai kegiatan menyangkut peningkatan kerjasama perlu terus dilakukan oleh setiap diplomat Indonesia.

Setelah diskusi, rombongan GYLC berkesempatan menyimak berbagai benda-beda seni dan kebudayaan Indonesia koleksi KBRI Praha. Mereka juga diajak menikmati kelezatan berbagai makanan khas Indonesia.
(es/es)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads