Klarifikasi RANTF Soal Dana Miliaran, Proyek Tak Jalan

Klarifikasi RANTF Soal Dana Miliaran, Proyek Tak Jalan

- detikNews
Kamis, 10 Jul 2008 14:51 WIB
Jakarta - Recovery Aceh-Nias Trust Fund (RANTF), Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias dan Yayasan Bustanussalatin memberikan klarifikasi atas proyek Taman Bustanussalatin dan jejak sejarah Aceh yang dituding sebagai proyek fiktif.

Berita tentang proyek fiktif ini dimuat di detikcom pada 3 Juli 2008 dalam tiga judul:

1. Proyek Siluman Taman Raja Aceh-Jadi Ikon Tapi Tidak Dikenal
2. Proyek Siluman Taman Raja Aceh-Dana Miliaran, Proyek Tak Jalan
3. Proyek Siluman Taman Raja Aceh-Dana Rp 5 M Susut Jadi Rp 1 M.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Berikut klarifikasi RANTF, BRR dan Yayasan Bustanussalatin tentang berita berita Proyek Siluman Taman Raja Aceh-Dana Miliaran, Proyek Tak Jalan:


1. Berita detikcom menyatakan, "Dalam MoU antara BRR dan Yayasan Acehkita selaku pihak yang menandatangani proyek berkewajiban melaksanakan dua tahap pekerjaan selama rentang waktu 19 bulan (Feb 2007 – Sep 2008).

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin:

a.MoU Induk ditandatangani Debra Yatim (Y Aceh Kita), Nazmiyah Sayuti (RANTF-BRR).

b. SPK Tahap I Studi ditandatangani Kamal Arif, Yayasan Acehkita dan Sahari Gani, Project Mgr BRR di Sektor Asosbud.

c.SPK Tahap II Implementasi ditandatangani oleh Kamal Arif, Yayasan Bustanussalatin dan Nazmiyah Sayuti (RANTF-BRR).

2. Berita detikcom menyatakan, "...Beberapa kalangan kemudian menduga, proyek tersebut hanya akal-akalan. “Proyek-proyek fiktif. Misalnya, pengadaan pohon persahabatan untuk Taman Bustanussalatin” jelas sumber detikcom di BRR. Sumber yang menolak disebut namanya itu mengatakan, pembibitan pohon-pohon khas Aceh juga tidak kelihatan hasilnya."

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin:

Pelaksana Pekerjaan bisa mengantarkan Detikcom meninjau proyek. Progress pekerjaan dipantau secara berkala oleh Koordinator Proyek dan tim monitoring BRR. MoU sudah dilakukan dengan para pihak, BRR, Pangdam, Walikota, para geucik, Dinas, dan unsur-unsur masyarakat.

3. Berita detikcom menyatakan, " Ghani juga tidak mengetahui, mengapa ia tiba-tiba digeser dari posisinya sebagai manajer proyek tersebut.

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin:

Sahari Ghani tidak pernah mengatakan dirinya digeser (per Sahari Ghani, 3 Juli 2008). Lihat pertanyaan detik.com nomor 7 dan jawaban dari KA.

4. Berita detikcom menulis, “…ternyata lebih banyak tertera nama Yayasan Bustanussalatin. Sedangkan laporan berkop Acehkita hanya ada satu, yakni berupa pemetaan jejak sejarah.

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin: di dalam pekerjaan Tahap 1 memang selalu disebutkan Yayasan Acehkita dan Tim Bustanussalatin untuk menunjukkan bahwa pengerjaan dilakukan oleh sebuah tim khusus di bawah Yayasan Acehkita, yaitu Tim Bustanussalatin.

5. Berita detikcom menulis, “…Sebab dalam kontrak kerja BRR no. 001/AK/10/02/V/07 disebutkan pihak Acehkita diserahi tanggung jawab mengerjakan proyek studi dan implementasi pohon persahabatan, taman Bustanussalatin, dan Heritage Trail di Banda Aceh……”

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin:

Tim kerja yang dipimpin oleh Tim Kamal Arif mengerjakan tahap studi maupun implementasi. Dalam tahap studi tim kerja ini tergabung dalam Yayasan Acehkita, namun pada tahap implementasi tim ini tergabung di Yayasan Bustanussalatin.

6. Berita detikcom berbunyi "Anehnya, alamat yayasan tersebut tidak jelas rimbanya. Sebelumnya Nazmiyah Sayuti mengatakan, yayasan tersebut beralamat di daerah Putroe Phang, Jl. Teuku Umar, Banda Aceh."

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin: Nazmiyah Sayuti tidak mengatakan yayasan tersebut di daerah Putroe Phang. Putroe Phang adalah salah satu lokasi pekerjaan.

7. Berita detikcom berbunyi " Tapi ketika ditelusuri, kantor tersebut fiktif alias tidak ada."

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin: pelaksana pekerjaan bisa mengantarkan Detik ke kantor tersebut, Senin-Jumat antara jam 9 – 16.00

8. Berita detikcom berbunyi, "Bukan hanya alamat kantor yayasan yang sulit ditemui. Sosok Kamal Arif, sang ketua yayasan, juga demikian. Sebelumnya, Nazmiyah Sayuti mengatakan Kamal sedang berada di Australia selama beberapa pekan".

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin: Nazmiyah Sayuti mengatakan Kamal mungkin sedang berada di Australia, untuk memberitahukan Deden, wartawan Detik, hp Kamal mungkin tidak bisa dihubungi, atau orangnya belum bisa ditemui. Pak Kamal Arif memang ke Australia pada tanggal 28 Mei – 1 Juni 2008 menjadi pembimbing kunjungan lapangan mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Unpar (ini bisa di-cek ke Unpar). Kemudian, pada tanggal 15 – 19 Juni 2008 melakukan kunjungan kerja ke Malaysia.

9. Berita detikcom berbunyi "Dalam surat elektroniknya itu, Kamal kemudian menjelaskan perihal pengalihan pengerjaan proyek dari Acehkita ke Bustanussalatin. Menurut Kamal, pengalihan itu adalah wewenang BRR."

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin:

a. Pertanyaan dari detik.com adalah (nomor 7) “Dalam proses ide dan implementasi proyek tsb tlh berganti-ganti manejer proyek, sebelumnya Risman, kemudian Sahari Ghani, dan berganti lagi. Kira2 apa alasannya?”

Jawaban Kamal Arif, “Penunjukan Manajer Proyek merupakan kewenangan BRR” (maksudnya BRR sebagai pemberi tugas)

b. Pergantian Manajer Proyek tergantung situasi, misalnya Ghani diganti karena memang sudah tidak bekerja di BRR lagi.

10. Berita detikcom menulis "Kamal juga menjelaskan…..dalam MoU BRR dengan Acehkita, hanya tahap studinya saja. Sedangkan implementasinya tidak dimasukkan” jelas Kamal….Hal sama juga dikatakan Direktur Pelaksana RANTF Nazmiyah Sayuti. Menurutnya, kesepakatan antara BRR dengan Acehkita hanya sampai tahap studi. Namun ketika Detikcom enunjukkan dokumen, berupa MoU yang ditandatangani dirinya dan DebraYatim, Nazmiyah tidak bisa mengelak. Sebab, dalam dokumen itu disebutkan, kesepakatan BRR dengan Acehkita meliputi dua tahap pekerjaan. Yakni, tahap pertama berupa studi, perencanaan dan perancangan, serta tahap kedua berupa implementasi."

Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin:

a. Dalam wawancara dengan Deden dari Detikcom, beliau tidak menunjukkan selembar kertas yang sedang dipeganginya kepada Nazmiyah Sayuti, tapi keliatan Deden memang memegangi lembaran kertas, yang tidak diketahui referensi apa itu. Jadi tidak ada pengelakan dari Nazmiyah Sayuti karena memang tidak ada yang ditunjukkan.

b. Benar bahwa MoU dengan Acehkita memasukkan tahap studi dan implementasi karena pada saat MoU tersebut dibuat (bersama-sama dengan Kontrak Tahap 1 Studi, Perencanaan, dan Perancangan) tujuan utamanya adalah untuk melindungi agar kesinambungan pekerjaan studi dengan implementasi tetap terjaga.

11. Berita detikcom menulis "Karena banyaknya kejanggalan dalam proyek Jejak Sejarah Aceh dan Taman Bustanussalatin, tidak heran jika Akhirudin Mahjuddin, Ketua Gerakan Antikorupsi (GeRak) Aceh, menduga adanya aroma korupsi dalam proyek tersebut.Indikasi ke arah itu….”


Klarifikasi RANTF-BRR dan Yayasan Bustanussalatin: sebagai sumber dana off-budget dan dikelola BRR, RANTF mempunyai SOP yang mengikuti dan tidak bertentangan dengan Keppres 80. Laporan keuangan bulanan Yayasan Bustanussalatin kepada RANTF sebagai cost control bisa diaudit oleh KAP sebagai bukti tidak ada tindak korupsi.

Istilah ‘korupsi’ ( juga proyek siluman, proyek fiktif, samar-samar) yang ditampilkan Detikcom agar diralat kembali, karena sudah mengacu pada suatu tuduhan yang belum terbukti.
(iy/iy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads