tunai mandiri (ATM) untuk membayar sekolah anaknya, saldo tabungannya menyusut tajam.
Lince memang berniat mendaftarkan sekolah anaknya di salah satu SD dan TK di
Cengkareng, Jakarta Barat. Uang pendaftaran Rp 4 juta pun hendak ditariknya
melalui ATM.
Namun, Lince shock saat mengetahui dirinya tak bisa mengambil uangnya. Saldo di tabungannya hanya tercatat Rp 80 ribu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
6/RW 3 Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (9/7/2008)
Lantas, kejadian pada hari Senin 7 Juli 2008 lalu itu dia tindak lanjuti ke bank tempat ia menaruh uangnya, di Mal Taman Anggrek. Lince hendak mencari penjelasan mengenai duitnya yang raib entah kemana.
"Dari bank, saya dikasih print out. Memang ada transfer ke rekening lain. Tapi
itu bukan saya yang melakukan. Kok bisa begitu," ucapnya kesal.
Sayangnya, Lince tidak memperoleh jawaban memuaskan dari pihak bank milik
pemerintah tersebut. Dia diminta menunggu proses pengecekan yang dapat
berlangsung 2 minggu.
"Katanya yang bisa ngecek (kesalahan itu) kantor pusat. Padahal saya harus
mendaftar anak saya. Paling telat besok," papar Lince sedih.
Kini, dia mencoba pengertian dari pihak sekolah untuk bisa menunda pembayaran. Kalaupun tidak dapat, meminjam duit saudara adalah pilihannya.
"Bukan soal nominal kerugian. Kalau rekening saya bisa dibobol, bagaimana dengan ribuan rekening nasabah yang lain. Bisa hilang sewaktu-waktu," tandas Lince cemas. (Ari/nwk)











































