Air mata duka kadang masih menitik di wajah Ismiharti, ibunda Pungkas. Foto Pungkas berpakaian pramuka yang ada di pangkuannya terus dipegangnya. Sesekali kala memandang foto itu, tak kuasa airmata kembali mengucur membasahi pipi. Nama Pungkas pun kerap diucapkannya dengan lirih. "Pupung...".
Ismiharti mengaku terus menunggu kabar jenazah anaknya yang belum dievakuasi dari gunung tertinggi di Amerika Utara itu karena cuaca buruk. Yang dibutuhkannya hanya informasi mengenai kondisi anak bungsunya itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terakhir kali Ismiharti mendapat kabar mengenai Pungkas Selasa sore. Sejak itu, tidak ada lagi informasi yang diterima. Dia meminta Kwartir Nasional Pramuka segera memberikan infomasi sekecil apa pun tentang keberadaan anaknya.
Selagi Ismiharti terus memikirkan puteranya yang berusia 20 tahun itu, tamu terus berdatangan menyampaikan turut berduka. Tenda telah dipasang, kursi telah disediakan. 2 Karangan bunga yang salah satunya dari Federasi Pemanjat Tebing Indonesia tampak terpajang di halaman. 'Turut Berduka Cita' menjadi ucapan tulus untuk meninggalnya pendaki muda Indonesia, Pungkas Tri Baruno.
(ana/fay)










































