Kejadian tersebut bermula ketika Asep Olpen usai belanja dan hendak pulang ke rumahnya, Sabtu malam, 5 Juli 2008, pukul 22.00 WIB. Saat dia menyeberang di jembatan penyeberangan orang di samping Blok M Plasa, dia diberhentikan oleh laki-laki bertato di sekujur tubuhnya.
Preman yang belakangan diketahui bernama Elly Sofie Aiboy (25) warga Jalan Pandan, Kramat Pela, Kebayoran Baru, itu meminta uang kepada Asep. "Saya kasih Rp 1.000, tapi dia masih minta lagi," ujar Asep menceritakan peristiwa itu kepada wartawan di rumahnya, Minggu (6/7/2008).
Lantas, dia pun memberikan lagi uang Rp 1.000 dengan menatap sang preman tersebut. Mendapat tatapan ini, preman bertato naga di lengannya itu tidak terima. Lalu, dia pun mengambil botol bir di sampingnya dan memukulkannya ke kepala Asep.
"Saya tidak bisa mengelak, dia sangat cepat," ujarnya seraya masih nampak balutan perban di kepalanya.
Mendapat perlakuan ini, Asep lari ke bawah dan minta tolong. Tidak berapa lama, pedagang yang berada di sekitar jembatan beramai-ramai memukuli preman bertato itu. Preman yang semula berwajah garang pun menjadi bulan-bulanan masa.
Adapun Asep, dengan memegangi kepalanya yang bocor, lari dan naik taksi menuju rumah sakit terdekat. Kepala Asep kemudian mendapat 15 jahitan. Sedangkan pelaku, setelah babak belur dihakimi warga, diserahkan ke Polsek Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Mendapati maraknya premanisme di Blok M, warga meminta polisi untuk menggalakkan lagi operasi preman. Seperti yang dituturkan Yuda (21), warga Depok. "Kadang takut kalau kemalaman di Blok M. Kalau perlu, polisi membebaskan Blok M dari preman deh," ujarnya kepada detikcom di Blok M Mall. (asp/aba)











































