Revolusi dasi ini pertama kali dilakukan Menteri Perindustrian Spanyol Miguel Sebastian yang hadir di gedung parlemen pada Rabu 2 Juli 2008 lalu tanpa mengenakan dasi. Aksi Sebastian ini diikuti Menteri Tenaga Kerja Celestino Corbacho di hadapan sejumlah wartawan keesokan harinya.
"Anda bisa tampil formal dengan dasi atau tanpa dasi," kata Corbacho menjelaskan aksinya, seperti dilansir AFP, Jumat (4/7/2008).
Corbacho mendukung aksi rekannya di kabinet, Sebastian, yang dikritik oleh Ketua DPR Spanyol Jose Bono. Usai tampil di parlemen tanpa dasi, Bono mengirimkan hadiah untuk Sebastian sebuah dasi dengan gambar singa kecil.
Namun Menperin itu menolak mengenakan dasi itu, yang sebenarnya dijual di toko hadiah di gedung parlemen senilai 35 euro. Sang Menperin ingin konsisten dengan keputusannya mengatur suhu pendingin ruangan di kantornya pada 24 derajat Celsius dan merekomendasikan bawahannya mengenakan pakaian kasual selama musim panas. Tujuannya tentu saja menghemat energi, mengingat kenaikan harga BBM yang begitu tinggi.
Sebagai balasan hadiah dari Ketua DPR, Sebastian mengirimkan hadiah istimewa: termometer. Sebastian ingin Bono bisa mengukur suhu di parlemen tentunya.
Kisah Spanyol ini tentu mengingatkan pada kebiasaan pejabat di Iran yang anti-dasi. Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad tak pernah memakai dasi, namun tentu alasannya bukan sekadar penghematan seperti di Spanyol.
Kebiasaan tanpa dasi ini juga mengingatkan pada gaya berpakaian Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ketua Umum Partai Golkar ini hanya mengenakan dasi ketika menyambut tamu negara. Selain nyaman, Kalla juga berkomitmen menghemat energi yang dibuktikan dengan penurunan jumlah rekening listrik di Istana Wapres beberapa bulan terakhir ini. (aba/nrl)











































