"Berdasarkan informasi awal dari polisi, ada satu WNI," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah kepada detikcom, Kamis (4/7/2008) pukul 13.00 WIB.
Namun, kata Faizasyah, informasi itu masih harus diverifikasi lebih lanjut. Hal itu karena paspor ke-17 perempuan itu masih dipegang oleh majikannya, seorang syaikha, janda seorang syeikh di Uni Emirat Arab (UEA).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pembantu yang disebut media Belgia sebagai 'budak-budak' itu harus bekerja 24 jam sehari. Selain itu, paspor mereka disita oleh keluarga syaikha begitu mereka tiba di Belgia.
Para wanita malang itu juga dilarang keluar dari hotel dan gaji mereka cukup rendah, hanya Rp 1,4 juta saja. Bandingkan dengan kamar Hotel Conrad per hari yang paling murah Rp 4,7 juta.
Perbudakan ini berakhir berkat keberanian empat pembantu asal Filipina. Mereka berupaya kabur dari hotel pekan lalu. Tiga orang di antara mereka tertangkap oleh bodyguard syaikha namun pembantu keempat sukses melaju ke kantor polisi Belgia.
Belum ada respons dari Kedubes UAE di Brussel. Sementara, sebagian besar koran Belgia menggambarkan kasus itu sebagai 'perbudakan tepat di jantung Brussel'. 17 Wanita yang diperbudak syaikha dan empat anak gadisnya itu berasal selain dari Indonesia antara lain berasal dari Filipina, Maroko, dan Suriah.
(ken/nrl)










































