Pelatihan dan pembibitan di daerah Gampong Pande, Kutaraja menjadi salah satu bukti anehnya proyek Jejak Sejarah Aceh dan Taman Bustanussalatin. Hampir semua warga di daerah tersebut mengaku, tidak pernah mendapat pelatihan terkait proyek miliaran tersebut.
Rusdian, sekretaris geucik Gampong Pande mengatakan, warga di wilayahnya memang pernah mendapatkan pelatihan. Tapi pelatihan tersebut bukan dari Acehkita ataupun dari Yayasan Bustanussalatin. Pelatihan berasal dari Dinas Perhutanan dan pesisir.
Pelatihan pun dilakukan pada tahun 2005 hingga 2006. Setelah itu, tidak ada lagi pelatihan. Padahal proyek jejak sejarah Aceh dan Taman Bustanussalatin dalam MoU disebutkan akan dimulai pada Februari 2007 dan berakhir pada September 2008.
Menurut Rusdian, upaya pembibitan yang dilakukan warga Gampong Pande merupakan program pengembangan ekonomi warga, dengan cara penjualan bibit-bibit tanaman yang dikelola warga. Dan orang yang punya inisiatif menggerakkan warga untuk melakukan pembibitan, adalah Idrus, mantan geucik di wilayah tersebut yang kebetulan sarjana pertanian. Idrus tidak terkait Acehkita ataupun Yayasan Bustanussalatin.
Ketidakjelasan proyek Jejak Sejarah Aceh dan Taman Bustanussalatin juga dikeluhkan Abdul Muthalib Achmad, Kasubdin Taman di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Banda Aceh. Menurut Abdul Muthalib, kerja tim yang diketuai Kamal sangat lamban. "Proyeknya tidak jelas. Lebih banyak omongnya daripada kerjanya," keluh Muthalib.
Muthalib juga menjelaskan, proyek Taman Bustanussalatin yang dikerjakan Kamal tidak berkoordinasi dengan pihaknya. Sebab sejauh ini mereka hanya diberi sebuah peta, tentang lokasi jejak budaya dan Taman Bustanussalatin. Adapun soal penanamannya serta pembibitan, Dinas Pertamanan tidak dilibatkan.
Hal inilah yang membuat Muthalib agak sedikit kesal. Soalnya, untuk perawatan dan pemeliharaan pohon-pohon yang ditanam nantinya menjadi tanggung jawab Dinas Pertamanan. "Saat ini saja, beberapa pohon yang ditanam banyak yang mati. Kita terpaksa melakukan penanaman lagi. Padahal dana yang kami kelola sangat terbatas," jelasnya.
Kurangnya koordinasi juga mengakibatkan tumpang tindihnya penanganan taman di Putroe Phang. Taman kota itu sekarang kondisinya semrawut dan tidak terurus. Karena Dinas Pertamanan dan Yayasan Bustanussalatin sama-sama bersikap menunggu, siapa yang akan mendandani taman, yang rencananya menjadi lokasi Taman Bustanussalatin.
Bagi Akhirudin Mahjuddin, Ketua GeRAK Aceh, terbengkalainya proyek Taman Bustanussalatin dan jejak sejarah bukan hal baru. Sebab banyak proyek yang ditangani BRR mengalami nasib serupa.
Penyebabnya adalah banyak kontraktor yang menangani proyek BRR bertindak nakal. Mereka melemparkan proyek yang didapat ke pihak lain. Hasilnya, proyek yang ditangani kontraktor tersebut tidak berjalan. Sekalipun berjalan, hasilnya tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.
Sejauh ini GeRAK mencatat lebih dari 200 kontraktor yang telah berbuat curang. Modus yang banyak digunakan adalah dengan mensubkontrak proyek yang mereka dapat ke pihak lain. Dengan cara itu, kontraktor bisa mendapat uang banyak tanpa harus bekerja.
Misalnya, jika nilai proyek yang mereka dapat senilai Rp 5 miliar. Ketika disubkontrakkan ke pihak lain, angkanya menyusut menjadi Rp 3 miliar. Parahnya lagi, pihak yang menjadi subkontrak kemudian melimpahkan lagi ke pihak lain, sehingga nilai proyeknya semakin menyusut hingga Rp 1 miliar. "Hasilnya bisa dibayangkan. Banyak proyek yang ditangani BRR tidak sesuai spesifikasi. Sebab uangnya mengalir kemana-mana," ujar Akhirudin.
Yang lebih memprihatinkan, ada beberapa proyek milik BRR yang diserahkan ke kalangan tertentu sebagai upaya "tutup mulut". Biasanya proyek semacam ini diberikan kepada kalangan aktivis LSM, akademisi, maupun jurnalis yang dinilai kritis. Namanya juga proyek cuma-cuma, tentu saja tidak ada pengawasan yang dilakukan. Akibatnya, beberapa proyek yang ditangani kalangan itu tidak jelas juntrungannya.
Keterangan Foto: Sebuah plakat sebagai penanda adanya situs Kerajaan Aceh masa silam di Gampong Pande, Kutaraja, Banda Aceh. (ddg/iy)











































