Harian The Telegraph Inggris edisi 2 Juli melansir, belasan wanita yang diperbudak oleh syaikha Uni Emirat Arab (UEA) itu berasal dari Filipina, Maroko, India, Mesir, Turki, Irak dan Suriah. Syaikha, janda seorang sheikh, bersama empat anak gadisnya menyewa semua kamar di lantai empat di Hotel Conrad selama setahun.
Sejumlah anggota kerajaan telah ditanyai soal insiden ini. Namun belum ada yang dikenai tuduhan sementara investigasi terus berlanjut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pembantu yang disebut media Belgia sebagai "budak-budak" itu harus bekerja 24 jam sehari dan paspor mereka disita oleh syaikha begitu mereka tiba di Belgia. Para wanita malang itu juga dilarang keluar dari hotel dan gaji mereka cukup rendah, hanya Rp 1,4 juta saja. Bandingkan dengan kamar Hotel Conrad per hari yang paling murah Rp 4,7 juta.
"Kami tidak boleh meninggalkan hotel dan kami melayani 24 jam sehari," kata seorang korban yang berasal dari Timur Tengah.
Perbudakan ini berakhir berkat keberanian empat pembantu asal Filipina. Mereka berupaya kabur dari hotel pekan lalu. Tiga orang di antara mereka tertangkap oleh staf keamanan syaikha namun pembantu keempat sukses melaju ke kantor polisi Belgia.
Belum ada respons dari Kedubes UAE di Brussel. Sementara, sebagian besar koran Belgia menggambarkan kasus itu sebagai "perbudakan tepat di jantung Brussel."
(nrl/fay)










































