Bahkan, sekitar 2,5 jam sebelum ditangkap, Wahyu sempat membeli gado-gado di depan rumah yang ditinggalinya. Pedasnya dengan tiga cabe rawet.
"Entah gado-gado itu sudah dimakannya atau belum. Dia memang sering beli di sini," kata Yuni (34), penjual gago-gado di seberang rumah yang ditinggali Wahyu, di Jl Dwikora, Palembang, Rabu (02/06/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Kadang, sambung Yuni, Wahyu keluar mengendarai motor. Temannya tidak banyak, hanya satu orang yang sering datang. Ada dua teman lain tapi jarang berkunjung. Wahyu bicara pakai bahasa Palembang. Warga sering melihat Wahyu menyapu halaman rumah.
Perawakan wahyu kurus dengan tinggi badan sekitar 170 cm. Rambut cepak, punya janggut hitam cukup panjang di dagu. Ketika ditangkap kemarin, janggut tersebut telah dicukur. Pokoknya, Warga tidak menyangka kalau Wahyu adalah anggota jaringan teroris.
Hal yang sama dituturkan Ketua RT 34, Anang Bastari (50). Dia mengatakan, Wahyu adalah sosok pemuda yang pendiam, santun dan rajin salat di Mushola Muttaqin, tak jauh dari rumahnya.
"Saya tidak menyangka jika mereka itu teroris, sebab selain orangnya tidak banyak tingkah, saya juga jarang berkomunikasi dengan keduanya," kata Anang.
Menurut Anang, Wahyu khususnya sudah sejak dua bulan lalu menetap di rumah milik almarhum Rustam Alamsyah. Menurut dia, Wahyu menetap di rumah itu atas izin Fauzi, adik Rustam, yang bertanggungjawab memelihara rumah itu. Wahyu digaji Rp 200 Ribu perbulan untuk merawat, membersihkan, dan menjaga rumah.
"Saya tahunya hanya itu saja. Selebihnya tidak ada. Sebab dia baru dua bulan enetap dan datangnya pun tidak lapor ke saya selaku Ketua RT," kata Anang.
Diduga Wahyu dan Nanang merupakan jaringan teroris Singapura, bahkan ada pula yang menyebutnya jaringan Noordin M Top. Sebab tiga hari sebelum kedua pemuda itu ditangkap, Densus 88 Anti Teror Mabes Polri menyergap seorang guru Bahasa Inggris di dekat Rumah Sakit Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin. Pria ini merupakan DPO dari Singapura dengan KTP Semarang, yang kemungkinan ada kaitannya dengan aktivitas Wahyu dan Nanang. (tw/djo)