Ada menteri sontoloyo di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Dia menggerakkan mahasiswa untuk melakukan demonstrasi, dan membiayai aksi itu. Pernyataan itu keluar dari Syamsir Siregar, Kepala Badan Intelejen Negara (KaBIN). Menteri yang diindikasikan melakukan itu, kendati tidak eksplisit, berasal dari luar Jawa, dan tertukik datang dari Sumatera.
Akibat itu, ada yang pura-pura tak tersengat tetapi berkomentar. Tetapi ada pula yang diam seribu bahasa, menjaga agar pernyataan itu tidak menjadi bola salju, menggelinding tanpa bisa direm. Salahsatu menteri yang melakukan itu adalah MS Kaban, Menteri Kehutanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ironi, karena menteri adalah pembantu presiden. Dia diangkat dan diberhentikan presiden. Dia ditunjuk menduduki jabatan itu karena dianggap kapabel. Punya motivasi tinggi memperbaiki sektor yang diserahkan padanya. Jabatan ini kendati secara politis sering disebut sebagai representasi partai yang membawanya, tapi itu bukan pangkal yang bersangkutan menduduki jabatan itu.
Jika pembantu presiden gambarannya seperti itu, maka tidak mengherankan kalau banyak kebijakan yang amburadul di tingkat pelaksanaan. Itu bukan karena kemampuan, tetapi lebih pada motivasi dalam menjalankan kebijakan. Kepentingan pribadi dan kelompok lebih dominan ketimbang kepentingan umum (baca : pemerintah).
Dari pernyataan Syamsir itu juga membuka mata kita, ternyata demonstrasi mahasiswa yang terjadi akhir-akhir ini bukan lagi sekadar 'memperjuangkan rakyat'. Sudah masuk dalam pergerakan mereka manajemen yang bernilai profit. Demo tak melulu serapan aspirasi rakyat, tetapi juga dana yang harus digali dari para sponsor yang berkepentingan mengekploitasi isu.
Kendati dalam banyak catatan sejarah 'pergerakan mahasiswa' tak murni dilakukan mereka sendiri (banyak keterlibatan tentara), tetapi catatan-catatan itu memberi batas yang tegas. Demo mahasiswa tabu ditaburi uang, juga tabu untuk berdekat-dekat dengan birokrat. 'Idealisasi' adalah roh mengapa mereka bergerak untuk turun ke jalan !
Kalau sekarang Syamsir menuding menteri membiayai mahasiswa unjukrasa, maka ada paradigma baru dalam aksi mereka. Aspek jer basuki mowo bea (uang) sangat penting, dan berdekat-dekat penguasa bukan lagi pantangan. Dan jika seperti ini aksi calon intelektual dan calon pemimpin bangsa itu (Baca : mahasiswa), kita jadi bertanya-tanya, terus dimanakah kira-kira posisi rakyat yang digembar-gemborkan diperjuangkan itu? Adakah nasib mereka memang hanya sebatas obyek penderita?
Sontoloyo memang telah merambah para pemimpin bangsa dan calon pemimpin bangsa. Sontoloyo telah menjadi amuba. Berbiak dan berkembang, menjadi virus yang kian memperpanjang bangsa ini hidup dalam labirynt.
Sontoloyo memang tidak berbentuk. Dia tidak mengidentifikasi sesuatu, kendati mencerminkan tentang sesuatu yang destruktif. Sontoloyo adalah sikap kurang ajar, tidak punya etika, tidak nasionalis, sangat soliter tapi tidak humanis, munafik, dan mau menang serta benarnya sendiri. Dalam bahasa Arek Suroboyo, sontoloyo itu adalah 'manusia dancukan'. Manusia terkutuk.
Untuk itu, menteri macam itu harus dikutuk karena tidak bakalan amanah. Juga mahasiswa yang melakukan aksi demi uang dan perutnya sendiri harus dilawan, karena dia bukanlah embrio pemimpin bangsa yang bisa memberi tauladan.
Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (iy/iy)











































