"Saya nggak tahu. Mungkin saja. Kalau kesini pasti saya tahu. Begitu saja," kata Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) Irjen Pol Ito Sumardi saat dikonfirmasi, Selasa (1/7/2008).
Menurutnya polisi memang mengantisipasi masuknya jaringan teroris di Sumsel. Senada dengan Ito, Kasat Brimob Sumsel AKBP Prasetya W juga mengaku tidak tahu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas Brimob Polda Sumsel di Bukit Besar Palembang, saat dicek mengaku tidak ada anggota teroris yang diamankan di markas mereka. Sementara, sekitar pukul 17.30 WIB, satu mobil Mitsubishi Kuda silver membawa 6 anggota Densus 88 kembali ke TKP di Jl Dwikora I RT 34/12 Nomor 2110 Kelurahan 20 Ilir D III, Kecamatan Ilir I, Palembang.
Mereka membawa kotak kardus yang diduga berisi barang bukti. Pada pukul 18.00 WIB, 6 anggota Densus 88 datang lagi dengan mobil Toyoya Kijang biru bernopol B 2199 EK. Mereka pergi 15 menit kemudian dengan membawa berkas-berkas. Berdasarkan informasi HL dan HR yang dicokok polisi, berprofesi sebagai guru bahasa Inggris yang aktif di pengajian, dan merupakan buronan pihak kepolisian Singapura.
Sementara itu warga Jl Dwikora mengatakan banyak yang tidak mengenal HR dan HL. Mereka hanya tahu rumah itu milik Rustam yang tinggal di Jakarta dan ditunggui oleh WL.
"Orang itu katanya keponakan pemilik rumah. Tapi saya juga tidak begitu kenal dengan dia, dan baru satu kali ngobrol di mushalla," ungkap Ketua RT 34, Anang (50). (tw/fay)











































