"Bagi saya, waktu 6 bulan untuk recovery berat. Ini pekerjaan mahaberat Presiden SBY. Recovery mungkin bisa dilakukan. Tetapi apakah bisa terlaksana tahun 2008, walahua'lam," kata Direktur Indo Barometer, M Qodari, kepada detikcom, Senin (30/6/2008).
Menurut dia, menaikkan popularitas Presiden SBY sangat tergantung pada banyak hal. "Tergantung pada kondisi ekonomi dunia, harga minyak dunia. Harga minyak dunia akan naik terus," ujar Qodari.
Selain itu, lanjut Qodari, tergantung pada harga pangan dunia. "Harga pangan meningkat tanpa ada kenaikan BBM, baik untuk konsumsi maupun energi alternatif. Jadi tergantung pada program pemerintah menangani dampak-dampak kenaikan BBM," kata dia.
"Bantuan langsung tunai (BLT) saja tidak cukup menutupi kesulitan kenaikan BBM. Harus ada implementasi program tambahan di luar BLT seperti meningkatkan penciptaan lapangan kerja untuk memulihkan tingkat kepercayaan," lanjut dia.
Qodari menilai komunikasi politik SBY dalam mensosialisasikan kenaikan harga BBM pun kurang. "Semua alasan ditolak masyarakat termasuk alasan yang populis yakni membantu rakyat miskin. Jadi komunikasi perlu ditambah lagi," kata Qodari.
Hasil survei Indo Barometer terbaru menunjukkan merosotnya popularitas SBY dari 49,5 persen pada Desember 2007 ke angka 20,7 persen pasca kenaikan BBM 24 Mei 2008. Hasil survei yang diumumkan Minggu kemarin ini membuat popularitas SBY berada di bawah rival terdekatnya, Megawati Soekarnoputri, yang mendapat 30,4 persen.
Namun Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPR Syarif Hasan yakin popularitas SBY akan pulih dalam tempo 6 bulan setelah adanya recovery. (aan/nrl)











































