Karena menjadi kebutuhan sehari-hari, Yanto selalu menyisihkan uang hasil ngamen di atas KRL Bekasi-Kota untuk membelinya. Paling tidak dalam sehari ia membeli 10 sampai 12 batang rokok dengan cara ketengan.
Yanto mengaku sudah mengenal rokok sejak usia 10 tahun. Awalnya ia coba-coba menghisap rokok bersama teman-teman sebaya. Satu batang dihisap beramai-ramai. Lama-lama ia jadi terbiasa dan mulai ketagihan. Sayangnya, uang sakunya tidak cukup untuk membeli rokok. Maklum, bapak kandung Yanto hanyalah pekerja serabutan. Mereka tinggal di sebuah gubuk sekitar stasiun kereta api Senen. Jadi jangankan untuk memberi jajan yang cukup buat Yanto dan tiga saudaranya, untuk biaya makan keluarga saja sang ayah sering harus cari pinjaman sana-sini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asep, remaja yang berkerja sebagai tukang sol sepatu juga memberi pengakuan yang sama. Remaja asal Garut, Jawa Barat, yang baru berusia 15 tahun ini menganggap rokok sudah menjadi bagian hidupnya. Baginya, rokok adalah teman setia perjalanannya dalam mencari orang yang butuh jasanya. Tidak heran, meski penghasilannya tidak menentu, dalam sehari ia rata-rata menghabiskan uang Rp 9 ribu hanya untuk membeli sebungkus rokok.
Usia perokok belia seperti Yanto dan Asep memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pemandangan anak-anak berseragam sekolah dasar hingga SMU yang merokok bisa dijumpai di sejumlah arena permainan, seperti rental play station, warnet dan arena hiburan lain. Mereka tidak sungkan-sungkan merokok sambil bercengkrama bersama teman-temannya.
Alasan para perokok belia ini beragam. Ada yang sekadar iseng atau karena sudah kecanduan. Tapi yang jelas, bagi para remaja saat ini, rokok adalah bagian dari gaya hidup. Jadi karena tidak mau dibilang kurang gaul mereka terpaksa menghisap rokok. Ujung-ujungnya, mereka akan mencari cara apa saja untuk bisa membeli rokok.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) peningkatan jumlah perokok pemula yang berusia di bawah 10 tahun tercatat sangat singnifikan yakni berkisar antara 0,4 % hingga 2,8%. Bahkan menurut Survei Ekonomi Nasional BPS, jumlah perokok yang mulai merokok pada usia di bawah 19 tahun telah meningkat dari 69 persen pada tahun 2001, menjadi 78 persen pada tahun 2004. Lembaga ini juga mencatat, 95% anak baru gede (abege) mengenal rokok melalui iklan rokok yang ditayangkan di televisi.
"Iklan rokok yang dibuat oleh tim kreatif biro iklan secara tidak langsung telah mencuci otak anak-anak agar merokok," kata Dina Kania, Ketua Tim Pemantau Anti Rokok Komnas Anak kepada detikcom.
Kini iklan-iklan rokok pun mulai melakukan penetrasi ke sejumlah ruang aktivitas remaja, semisal film, olah raga dan musik. Beberapa produksi film dalam negeri bahkan kini menjadi target promosi rokok. Misalnya sebuah film komedi yang saat ini iklannya terpajang di sebuah billboard di depan gedung Kejaksan Agung.
Gencarnya promosi merupakan siasat para produsen rokok untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat. Berbagai kegiatan, seperti musik, film dan olahraga dimasuki promosi rokok. Sehingga brand sebuah produk rokok dengan mudah dikenali hanya dengan menyebutkan taglines-nya saja.
Untuk keperluan tersebut triliunan rupiah telah dikeluarkan para produsen rokok. Jumlah belanja iklannya saat ini menduduki urutan terbesar kedua setelah telekomunikasi. Menurut hasil survei AC Nielsen, belanja iklan rokok pada tahun 2006 mencapai Rp 1,6 triliun, atau sedikit di bawah belanja iklan sektor telekomunikasi yang mencapai Rp 1,9 triliun.
Menghadapi gencarnya iklan rokok, pemerintah kemudian membatasi jam tayang iklannya di televisi, yakni hanya bisa ditayangkan pukul 21.30-05.00 WIB. Namun produsen tidak kehilangan akal. Beberapa kegiatan musik maupun olahraga kemudian dijadikan ruang untuk berpromosi. Bahkan dalam beberapa event, penyelenggara membagi-bagikan rokok secara gratis kepada pengunjung.
Tapi di satu sisi, gencarnya berpromosi di sejumlah kegiatan membuat penyelenggara atau event organizer (EO) ketiban untung. Rico misalnya, seorang penyelenggara turnamen futsal di Tangerang. Ia mengaku dalam setiap penyelenggaraan pertandingan futsal di wilayahnya tidak pernah kesulitan mendapatkan sponsor. Sebab prosesnya tidak ribet dan dananya yang dikeluarkan juga lumayan besar.
"Setelah pengajuan proposal disetujui, mereka langsung memberikan uang untuk sponsor tunggal, bahkan rokoknya juga dibagikan secara gratis lengkap dengan stand dan gadis-gadisnya," kata Rico kepada detikcom.
Ruang promosi yang luas bagi produk rokok membuat upaya sosialisasi bahaya rokok yang telah berjalan 9 tahun jadi mandek. Sebab sekalipun di setiap spanduk atau poster tertera peringatan rokok bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Namum peringatan itu tenggelam dengan gebyar promosi yang ditunjukan produsen rokok. (ron/ddg)











































