"Tapi semua ini akan kita lihat recovery-nya setelah 6 bulan ke depan," kata Syarif Hasan kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/06/2008).
Syarif juga menggangap turunnya popularitas SBY sudah merupakan konsekuensi dan sudah diprediksi jauh-jauh hari sebelum kebijakan kenaikan BBM dilakukan.
"Nah ini memang berpengaruh kepada popularitas. Tetapi kan hal ini harus dilakukan Presiden untuk kepentingan jangka penjang, untuk pertumbuhan ekonomi kita," sergah Syarif.
Namun demikian, Syarif tetap yakin bahwa hasil survei yang dilakukan Indo Barometer ini bukanlah satu-satunya parameter.
"Dari hasil tersebut masih banyak yang harus dievalusi, banyak hal yang masih harus ditanyakan. Tidak soal bagi kami. Biar survei ada, itu bukan satun-satunya parameter. Tidak terlalu khawatirlah," tambahnya.
Hasil survei Indo Barometer menunjukkan merosotnya popularitas SBY dari 49,5 persen pada Desember 2007 ke angka 20,7 persen pasca kenaikan BBM 24 Mei 2008. Hasil survei yang diumumkan Minggu kemarin ini membuat popularitas SBY berada di bawah rival terdekatnya Megawati Soekarnoputri yang mendapat 30,4 persen.
(ana/ana)











































