Israel Targetkan 1 Tahun Hancurkan Nuklir Iran

Israel Targetkan 1 Tahun Hancurkan Nuklir Iran

- detikNews
Minggu, 29 Jun 2008 12:33 WIB
London - Israel rupanya punya target 1 tahun ini untuk menghancurkan program nuklir Iran. Kalau tidak, Israel takut akan diserang Iran dengan senjata nuklirnya.

"Sebagai petugas intelijen yang bekerja dengan skenario terburuk, saya memberitahu kita harus segera bersiap. Kita harus melakukan apapun yang penting, bertahan atau diserang," kata mantan Kepala Intelijen Israel Shabtai Shavit kepada Sunday Telegraph yang dilansir dari AFP, Minggu (29/6/2008).

Jika tekanan dunia terkait sanksi nuklir Iran tidak berhasil, maka, "Yang tertinggal adalah aksi militer," kata dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Shavit mengatakan waktu yang dimiliki Israel semakin sempit. Shavit juga mengatakan hasil pemilihan presiden Amerika Serikat turut mempengaruhi rencana serangan Israel.

"Kalau yang terpilih McCain (capres Partai Republik John McCain), dia akan mudah menyetujui rencana (serangan) itu. Kalau Obama (capres Partai Demokrat Barack Obama), tidak. Prediksi saya, dia tidak akan menyetujui, setidaknya saat-saat pertama dia di Gedung Putih," kata dia.

Namun, Shavit menambahkan persetujuan negera sekutunya itu tidak terlalu penting untuk melancarkan serangan udara Israel menghancurkan nuklir Iran.

"Bila waktunya tiba memutuskan apa yang harus dilakukan untuk pertahanan dan keamanan nasional kami, sebaiknya kita mengikuti perkembangan Amerika, apa yang akan kita lakukan. Tapi mendapat persetujuan AS itu bukan prasyarat," kata Shavit.

Kepala Garda Revolusi Iran Jenderal Mohammad Ali Jafari Sabtu 28 Juni 2008 kemarin, mengingatkan Israel untuk tidak menyerang negaranya. Jafari mengatakan kalau Israel masih dalam jangkauan roket Iran.

Iran diberi sanksi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) karena dituduh melakukan pengayaan uranium yang mengancam keamanan Timur Tengah, AS dan Israel takut kalau nuklir Iran akan digunakan sebagai senjata. Namun Iran berkeras program nuklirnya tidak dijadikan senjata, melainkan untuk memenuhi kebutuhan energi listriknya. (nwk/aba)


Berita Terkait